Ekonomi Islam di Indonesia, Kini dan Nanti

KIBLAT.NET – Pembicaraan mengenai Pendidikan berbasis Islam menjadi menarik di tengah kemajuan Ilmu pengetahuan di abad 21 ini, salah satunya mengenai literasi ekonomi Islam bagi masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan 85 persen mayoritas muslim, Indonesia mempunyai potensi besar sebagai pusat ekonomi Islam di dunia ini. Faktanya, Indeks literasi keuangan Islam yang dirilis oleh Otoritas jasa Keuangan tahun 2016 masih berada di angka 8,11 persen, artinya pemahaman masyarakat Indonesia mengenai ekonomi Islam masih minim. Di samping itu, keberadaan literasi dan inklusi keuangan Islam mempunyai hubungan yang erat sehingga indeks inklusi keuangan syariah pun masih terbilang kecil di kisaran 11,06 persen pada tahun 2016. Realita ini sepatutnya menjadi perhatian bagi para pemerhati ekonomi syariah di Indonesia. Dengan demikian, Gerakan literasi ekonomi Islam yang sistematis dan berkelanjutan adalah sebuah keharusan agar masyarakat Indonesia menjadi well-literate terhadap ekonomi Islam. Dengan itu, penting kita cermati latar belakang historis, terminologis, masalah dan solusinya.

Dilihat dari latar belakang sejarahnya, Sebagai contohnya, ilmuwan Barat bernama Gresham telah mengadopsi teori Ibnu Taymiyah tentang mata uang (currency) berkualitas buruk dan berkualitas baik. Menurut Ibnu Taimiyah, uang berkualitas buruk akan menendang keluar uang yang berkualitas baik, contohnya fulus (mata uang tembaga) akan menendang keluar mata uang emas dan perak. Inilah yang disadur oleh Gresham dalam teorinya Gresham Law dan Oresme treatise. Bahkan Bapak ekonomi Barat, Adam Smith (1776) dengan bukunya The Wealth of Nation diduga kuat banyak mendapat inspirasi dari buku Al-Amwalnya Abu Ubaid (Agustianto, Sejarah pemikiran ekonomi).

Ini menunjukkan bahwa edukasi nilai-nilai Islam terhadap ekonomi betul-betul menginspirasi pemikiran ekonom barat pada waktu itu. Maka istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini adalah Ekonomi Islam bukanlah sebuah “pengganti” dari ekonomi konvensional, tetapi bagaimana kita “membangkitkan” ekonomi Islam yang sudah lama redup untuk menjadi solusi di tengah tantangan ekonomi konvensional yang belum mampu menjawab tantangan zaman.

Seiring dengan itu, maka dirasa perlu bagi kita untuk memetakan faktor yang menyebabkan permasalahan tersebut, pertama, masih minimnya peran ulama dalam mengimplementasi nilai-nilai ekonomi Islam dalam kajian di masjid. Para ulama yang memahami fiqih muamalah dan ekonomi Islam masih relatif sedikit dan hanya sebatas orang-orang yang berada di DSN-MUI atau lembaga terkait yang memahaminya. Akibatnya, pemahaman masyarakat mengenai ekonomi Islam masih terbilang minim karena kajian-kajian di masjid-masjid mayoritas diisi dengan fiqih ibadah daripada fiqih muamalah. Ulama sejatinya mempunyai peran “sakral” dalam menjadi agent of change di masyarakat karena seorang ulama adalah orang yang bisa menjadi penggerak dan katalisator untuk mengajak masyarakat dalam membangun ekonomi umat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.