Masri Sitanggang : Kecewa serta Aneh terhadap HRS dan Maklumatnya Tentang PBB

detikislami.com – Medan – Ketua Umum Gerakan Islam Pengawal NKRI (GIP NKRI) Dr. Masri Sitanggang merasa sangat kecewa dan merasa aneh akan maklumat yang dikeluarkan HRS terhadap PBB dengan mengatasnamakan Imam Besar Umat Islam.
Karena begitu kerdilnya jika sosok Imam Besar Umat Islam justru mengurusi hal yang sangat diluar jalan.

Berikut pernyataan yang disampaikan oleh Dr. masri Sitanggang ketika ditanya terkait HRS dan Maklumatnya kepada PBB yang mengatasnamakan Imam Besar Umat Islam :

SOAL IMAM BESAR UMAT ISLAM
Saya termasuk orang yang mengusulkan agar Habib Rizieq Sihab (HRS) dinobatkan menjadi “Imam Besar Umat Islam” –bukan sekedar Imam Besar FPI. Itu terjadi di akhir Desember 2016. Ketika itu HRS datang ke Medan setelah sebelumnya mengunjungi Aceh. Saya dan tokoh-tokoh dari Gerakan Islam Pengawal NKRI seperti Prof. DR. Hasim Purba, Prof. Dr. Aslim Sihotang, KH Nazaruddin Lubis, Khairul Munadi, SH dll, menggagas pertemuan khusus dan terbatas dengan HRS di Hotel Saka. Persoalan yang dibahas adalah situasi yang berkembang waktu itu dan apa langkah strategis umat Islam ke depan. Dari situ kemudian saya, yang menjadi pimpinan diskusi, mengusulkan kepada floor : “Bagaimana kalau HRS kita nobatkan menjadi Imam Besar Umat Islam Indonesia ?” Hadirin setuju sambil kemudian bertakbir keras. Sebagai tanda penobatan, HRS dipakaikan _ulos_ –pakaian adat kebesaran Batak (Batak Mandailing) oleh Prof. DR. Aslim Sihotang didampingi KH Nazaruddin Lubis, saya dan Prof. DR. Hasim Purba. Selanjutnya di acara tabligh akbar di depan Masjid Agung Medan –yang menjadi rangkaian kegiatan beliau di Medan, di hari itu juga, yang dihadiri lebih 10 ribu massa, Saudara Rabu Alam menyampaikan prihal penobatan Imam Besar Umat Islam HRS dengan membacakan naskah yang disiapkan GIP-NKRI. Hadirin menyambut dengan takbir gegap gempita.

Imam Besar Umat Islam diharapkan menjadi pemersatu umat Islam Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang organisasi dakwah dan gerakan serta pemahaman dan aliran politik yang ada. Imam Besar Umat Islam diharapkan menjadi rujukan yang mengayomi para tokoh pergerakan di Indonesia. Begitulah, agar gerakan dakwah ini efektif mencapai tujuannya.

SOAL MAKLUMAT HRS TENTANG PBB
Sukar bagi saya memahami HRS mengeluarkan maklumat tentang PBB yang viral di media sosial beberapa hari sejak usai Rakornas PBB 27 Januari 2019 itu.

Maklumat itu beredar dalam bentuk meme dan skrip tanpa tandatangan. Setahu saya kebiasaan HRS, sejak dia ada di perantauan Saudai Arabia, memberikan seruan atau maklumat dalam bentuk rekaman suara atau video. Dalam bentuk rekaman suara atau video tentu dimaksudkan untuk menjamin validitasnya, untuk menghindari hoax, pembajakan, modefikasi pesan atau manipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Seorang Imam Besar Umat Islam mengeluarkan maklumat sepenting itu dengan meme dan skrip di medsos yang siapa saja bisa membuatnya, tanpa tanda tangan ? Itulah yang sukar saya mengerti. Apalagi, kita sulit memverifikasinya, kecuali melalui Tim Media Front Pembela Islam FPI.
Di meme itu ada foto HRS. Dibawahnya tertulis dengan hurup kapital “MAKLUMAT IMAM BESAR UMAT ISLAM INDONESIA HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB TENTANG PARTAI BULAN BINTANG”.

Tulisan di bawah foto HRS itu mengganggu pikiran saya. Apakah peran “Imam Besar Umat Islam Indonesia” termasuk juga mengurusi internal partai-partai dan ormas-ormas yang ada di Indonesia ? Artinya, kalau hari ini ada maklumat tentang PBB, lain hari akan ada maklumat tentang partai-partai dan ormas-ormas Islam lain. Padahal, tiap ormas dan partai punya kedaulatan masing-masing dan secara struktur tak ada kaitannya dengan Imam Besar Umat Islam Indonesia. Saya sangat khawatir hal ini akan sangat kontra produktif dalam membangun kesatuan umat.

Maklumat HRS itu ditujukan kepada pengurus dan anggota serta simpatisan FPI yang menjadi caleg atau pengurus PBB; isinya agar segera mundur dari PBB berkenaan dengan ketetapan DPP PBB merapat ke Paslon 01; bagi yang tidak mundur akan mendapat sanksi pemberhentian sebagai pengurus/anggota FPI. Sangat sayang ada maklumat Imam Besar Indonesia sperti ini : mengurus sekelompok Islam tertentu. Maklumat seperti ini adalah tepat kalau dibuat/dikeluarkan oleh Pimpinan FPI, bukan oleh Imam Besar Umat Islam Indonesia. Kalau diibaratkan, maklumat HRS itu sama seperti Jokowi atas nama Presiden mengeluarkan maklumat kepada anggota dan pengeurus PDI, atau Prabowo (jikia nanti Jadi Presiden) kepada Gerindra. Jadi, HRS telah memosisikan dirinya bukan lagi sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia, melainkan sebagai Imam FPI.

Sebagaimana disampaikan Yusril Ihza Mahendra, PBB sangat demokratis dan sangat menghargai perbedaan. Pilihan presiden boleh berbeda, tetapi harus tetap saling menghormati. Kenyataannnya, tidak sedikit caleg dan kader PBB, termasuk saya, yang ikut Ijtima’ Ulama. Bahkan Ketua Majelis Syuro PBB, MS Kaban, pun bagian dari Ijtima’ Ulama. Artinya, bukan cuma caleg PBB asal FPI yang ikut ijtima’ ulama. Maka, maklumat yang ditujukan kepada anggota FPI itu secara sadar telah menjadi seprasi, pemisah antara anggota FPI dengan bukan FPI, meskipun mereka punya pandangan yang sama. Ini membuat pendukung ijtima’ ulama non FPI yang ada di PBB, yang sudah sejak lama malang melintang bersusah payah menjaga eksistensi PBB kurang (menghindari kata “tidak”) simpati kepada FPI. Kita boleh saja berimam kepada HRS, tapi belum tentu mau disamakan dengan FPI. Maka, dalam konteks ini, Maklumat HRS –sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia yang diharapkan bisa mempersatukan dan mengayomi, jadi kontra produktif.

Umat Islam pendukung ijtima ulama dan simpati pada HRS sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia, tersebar di mana-mana : di berbagai partai dan di berbagai lapisan masyarakat termasuk mereka yang di birokrat. Sampai saat ini, saya belum mendengar adanya maklumat HRS, sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia, mengajak mereka yang berada di partai-partai pendukung Paslon Presiden 01 untuk mundur. Ini memunculkan banyak pertanyaan seputar hunungan FPI dan PBB. Jika soalnya adalah disebabkan di partai-partai lain itu tidak ada anggota atau pengurus FPI, maka ini membenasrkan bahwa HRS hanya bertindak sebagai petinggi FPI, tidak mencerminkan sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia.

Di dalam maklumat itu disebutkan : “Maklumat ini dibuat sesuai dengan Sikap Politik FPI…” Bagaimana mungkin Imam Besar Umat Islam –yang diharapkan sebagai pemersatu dan mengayomi berbagai gerakan dakwah, memutuskan perkara dan mengeluarkan maklumat dengan bersandar pada sikap satu organisasi (dalam hal ini FPI) ? Ini samalah artinya Ma’ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia, yang dari Nahdatul Ulama itu, memutuskan satu perkara dan mengeluarkan maklumat (boleh juga fatwa) atas dasar sikap atau pandangan organisasi Nahdatul Ulama.

Dalam hal ini HRS telah mengesampingkan sikap dan pandangan politk gerakan Islam lain di luar FPI yang tetap mendukung caleg-caleg PBB pro Ijtima’ Ulama. Bebarapa tokoh Ulama yang tak diragukan komitmen kejuangannya seperti KH Kholil Ridwan, KH Tengku Zulkarnaen, Ustadz Jel Fatullah, KH Amin Syaifullah, DR Yahya Walon memberikan dukungan kepada caleg-caleg PBB. Secara kelembagaan, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia juga membarikan pandangan politiknya yang mendukung dan berupaya memenangkan para caleg PBB pro Ijtima’ Ulama. Banyak sekali kader yang berafliasi ke Dewan Dakwah ikut menjadi caleg di PBB. Mereka misalanya dari KB PII, STII dan pengrus Dewan Dakwah sendiri. Mereka ini juga adalah penggerak 212 dan Ijtima’ Ulama. Bagaimana mereka bisa mengikuti maklumat Imam Besar Umat Islam Indonesia ini ? Saya, misalnya, dibesarkan di kalangan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Meski dekat dengan FPI, tetapi sulit bagi saya untuk tunduk, ikut sikap politik FPI. Apalagi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia punya sikap tersendiri. Jadi, dengan maklumat itu, HRS sedang mengambil jalan berseberangan (kalau tidak konfrontasi) dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Ulama-ulamanya.

Secara keseluruhan, maklumat yang mengatasnamakan HRS sebagai Imam Besar Umat Islam itu saya nilai sangat kurang tepat. Mulanya saya sangat ragu kalau itu dari HRS. Saya menduga tim media FPI telah membuat kecerobohan besar. Saya menduga ada pihak-pihak di lingkungan FPI yang ingin memanfaatkan Imam Besar Umat Islam untuk tujuan tertentu dan coba mengontrol PBB. Tetapi setelah saya lakukan check dan recheck dengan petinggi FPI di Jakarta dan saya terima jawaban :”benar, bang”, lalu saya –sebagai yang ikut mengusulkan HRS sebagai Imam Besar Islam Indonesia, bisa bilang apa kecuali : “sayang sekali…”?
Tetapi saya masih berharap bahwa kesalahan bukan pada HRS, melainkan pada kecerobohan tim MEDIA CENTER FPI. (mas)

Satu tanggapan untuk “Masri Sitanggang : Kecewa serta Aneh terhadap HRS dan Maklumatnya Tentang PBB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.