Inspirasi Keluarga Samara dalam Film Keluarga Cemara

detikislami.com – Keluarga merupakan entitas yang sangat penting di tengah kehidupan kita. Sampai-sampai diibaratkan sebagai harta yang paling berharga bahkan mutiara tiada tara di muka bumi. Pertanyannya, keluarga seperti apa yang menjadi harta dan menjadi mutiara itu? Sementara bayangan perceraian menghantui para keluarga. Tak jarang konflik berkepanjngan berawal dari keluarga.

Tentu untuk menjawab pertanyaan pertama kita harus merujuk pada cita-cita bersama dalam sebuah pernikahan. Menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah atau keluarga Samara. Secara umum cita-cita itu bisa kita sebut sebagai keluarga bahagia, keluaga sejahtera, keluarga harmonis atau keluarga bahagia. Lalu seperti apa keluarga samara itu?

Tepatnya 3 Januari 2019 lalu, layar lebar seluruh Indonesia tengah gandrung dengan adanya sebuah film yang mengangkat kisah tentang keluarga yang cukup akrab di tahun 90-an, Keluarga Cemara. Tulisan ini terinspirasi dari Film besutan Yandi Laurens itu.

Film ini bisa dikatakan gambaran keluarga kecil di era milenial saat ini. Film ini pertama kali diangkat dari sebuah novel karangan Arswendo Atmowiloto pada era 1970-an yang kemudian menjadi serial sinetron pada pertengahan tahun 1996.

Film remake Keluarga Cemara ini, mengusung wajah baru yang lebih kekinian. Keluarga Cemara milenial. Rata-rata penontonnya pun merupakan kaum milenial yang dahulu ketika pertama kali menontonnya di usia kanak-kanak. Selain ajang nostalgia film ini juga memiliki nilai yang sangat baik untuk menjadi inspirasi keluaga para kaum milenial yang kini sudah berkeluarga. Seperti saya.

Di menit-menit awal dalam film tersebut, kita disajikan dengan konflik yang memaksa keluarga Ara untuk meninggalkan rumahnya oleh debt collector. Suasana tidak karuan terjadi, dan keluarga Abah harus menerima kenyataan bahwa aset dan perusahan mereka telah disita akibat ulah saudaranya sendiri yang telah menggadaikannya kepada perusahaan lain. Bangkrut.

Secara drastis kehidupan mereka berubah. Yang tadinya tinggal di rumah gedong kini terpaksa tinggal di rumah tua di pelosok desa warisan Aki, ayah sang Abah. Ara kecil justru senang pindah rumah, dengan begitu ia merasakan kebersamaannya dengan teteh dan kedua orang tuanya setiap hari. Sebelumnya sang Abah sibuk dengan kerjaannya, sedang teteh asyik dengan teman-temannya.

Emosi penonton terus diaduk ketika Abah yang sudah tidak memiliki pekerjaan tetap, harus mengadu nasib sebagai kuli bangunan lalu mengalami kecelakaan kerja. Sontak keluarga kecil itu kehilangan sumber pencahariannya. Tak patah arang, Emak memutar otak untuk berperan sebagai tulang punggung keluarga, bersama anak sulungnya Euis, ia merintis usaha kecil berdagang opak. Setiap pagi emak menjajakan kepada tetangganya, sedangkan Euis menjajakannya di sekolah.

Terlihat sosok Euis yang sangat tidak terbiasa dengan keadaanya yang harus berjualan setiap pagi kepada teman-teman di kelas. Ia pun sempat di-bully temannya, ia sempat putus asa namun beruntung beberapa teman menguatkannya.

Abah frustasi dengan keadaan ini, merasa dirinya sebagai penyebab dari kegagalan rumah tangganya. Karena ulahnya, anak dan istrinya hidup apa adanya bahkan kekurangan tidak seperti dahulu yang setiap sesuatunya ada. Terpenuhi.

Puncaknya adalah ketika Abah menandatangani penjualan rumah warisan yang kini ia tempati. Emak berusaha mengingatkan agar mempertimbangkan keputusannyaa untuk tidak menjual rumah. Sementara Euis dan Ara sebelumnya sudah sepakat untuk menggagalkan akad itu, terang saja sesaat setelah surat ditandatangani. Mereka berdua dengan berani merampas sertifikat tanah yang akan diserahkan kepada pembeli.

“Kami tidak mau pindah dari sini,” kompak mereka berujar.

Abah jelas kecewa dan memarahi seluruh anggota keluarganya terutama Euis. Abah merasa semakin gagal dan kalap. Sementara itu emak berusaha meneguhkan kembali sang Abah, karena mereka tidak pernah menyatakan kekecewaan bahkan menimpakan kesalahan kepada Abah sebagai biang kesalahan ini.

“Jika kami adalah tanggung jawab Abah, lalu Abah tanggung jawab siapa?” tegas Euis sesenggukan. Abah terdiam dan duduk, emak, Ara dan Eius bersamaan memeluk Abah. Suasana haru pecah.

Keesokannya Abah tersadar untuk mempertahankan rumahnya, ia melobi sang pembeli untuk mengurungkan niatnya membeli rumah yang kadung ditandatangani Abah. Dengan proses negosiasi yang alot akhirnya sertifikat itu kembali ditangan Abah. Keluarga girang. Ditambah kelahiran adik Ara yang merupakan anak ketiga dari pasangan Abah dan Emak semakin melengkapi.

Dari sini kita bisa melihat, dengan perubahan drastis keadaan ekonomi keluarga Abah yang tadinya berkecukupan kini kekurangan tak membuat rumah tangga mereka berantakan. Justru mereka saling menguatkan dengan berbagi peran, Emak bejualan untuk menopang ekonomi.

Pendidikan menjadi penguat nilai film ini, kemiskinan yang dialami keluarga, namun tak serta merta memutus sekolah anak-anak mereka. Mereka tetap bersekolah di sekolah terbaik di tempat barunya itu. Mereka tetap berprestasi.

Euis tak sungkan berjulan meski sangat bertolak belakang dengan gaya hidup dan pergaulan sebelumnya. Namun Ara tetap ceria dan polos meski dalam keadaan keluarga yang sulit. Meskipun kehidupan sederhana mereka tetap menumbuhkan kebahagiaannya.

Meskipun banyak sisi yang kurang dalam film ini. Namun telah berhasil memberikan makna bagi keluarga masa kini, setidaknya saya. Bahwa sesulit apapun keadaan rumah tangga, harus tetap menopangnya bersama, memperjuangkannya bersama, tanpa menyalahkan diri atau yang lain bahkan sampai terpuruk dengan keadaan. Yang terpenting adalah usaha bersama untuk kehidupan bersama keluarga yang lebih baik.

Keluarga Cemara menjadi Inspirasi Keluarga Samara yakni keluarga yang mampu menjaga kedamaian den memiliki cinta dan kasih sayang bersama. Saling melengkapi, dapat saling membahagiakan dan menguatkan.

Cinta (mawaddah) perasaan cinta yang melahirkan keinginan untuk membahagiakan diri. Lalu kasih sayang (rahmah) perasaan yang melahirkan keinginan untuk membahagiakan orang yang dicintai. Keduanya adalah dasar batiniah bagi terwujudnya keluarga yang damai (sakinah) secara lahir dan batin. Maka benarlah harta dan mutiara sesungguhnya adalah keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.