Facebook Jadi Medsos Favorit Sebar Hoaks Jelang Pilpres 2019

detikislami.com – Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) memaparkan Facebook menjadi platform favorit banyak orang untuk berbagi berita bohong atau hoaks. Tak tanggung-tanggung, totalnya mencapai 429 hoaks informasi yang disebar melalui media sosial itu sepanjang 2018.

Supervisor Mafindo Santi Indra Astuti mengatakan penyebaran hoaks terbanyak di Facebook terjadi pada September 2018, yakni 62 hoaks. Sementara, paling sedikit terjadi pada Mei dan November 2018 sebanyak 23 hoaks.

Selain Facebook, media sosial atau aplikasi lainnya yang kerap dimanfaatkan berbagai pihak untuk memberikan informasi hoaks, di antaranya Twitter, Instagram, dan Whatsapp. Lebih detil, hoaks yang dibeberkan lewat Twitter sebanyak 82 hoaks dan Whatsapp sebanyak 114 hoaks.

Santi menjelaskan secara keseluruhan hoaks paling banyak disebar melalui media sosial terjadi pada Oktober 2018 sebanyak 31 hoaks, sedangkan khusus Whatsapp terjadi pada Maret dan Desember 2018 masing-masing sebanyak 13 hoaks.

“Lalu kalau penyebaran hoaks melalui Twitter tidak menonjol dalam pemetaan 2018,” ujar Santi, mengutip riset Mafindo, Sabtu (9/2).

Dari sisi topik, politik menjadi yang paling dominan dibahas dalam paparan hoaks yang disebar ke publik. Sekitar 488 dari total 997 hoaks yang dibagikan bertemakan politik. Kemudian, topik agama menjadi terbanyak kedua sebanyak 119 hoaks, lalu diikuti oleh kesehatan dan lain-lain.

“Hoaks politik terbanyak ditemukan pada September, jumlahnya mencapai 69 dari total hoaks sebanyak 101,” ungkap Santi.

Realita itu terjadi tentu bukan tanpa sebab. Jika mengingat kembali beberapa waktu ke belakang, momen politik berupa pengambilan nomor urut peserta pemilihan presiden (pilpres) dilakukan pada September. Tak ayal, banyak berita bohong disebar pada saat itu.

“Tema politiknya pun tidak jauh dari isu dukungan, pencitraan negatif, dan delegitimasi pemerintah,” jelas Santi.

Kemudian, untuk hoaks bertema agama memuncak pada Oktober 2018. Santi menjelaskan pada bulan itu terjadi peristiwa pembakaran bendera yang tertulis kalimat tauhid.

Sebagian pihak melakukan penyebaran hoaks dengan berbagai jenis dokumen, yakni narasa, foto, dan video. Berdasarkan data yang ditemukan, kombinasi antara narasi dan foto mendominasi sebanyak 443 hoaks. Diikuti berupa narasi saja sebanyak 340 hoaks, kombinasi narasi dan foto sebanyak 126 hoaks.

“Hoaks dengan kombinasi narasi dan foto ditemukan paling banyak Oktober 2018, hoaks berbentuk narasi paling banyak Maret 2018, sementara kombinasi narasi serta video terbanyak muncul September 2018,” kata Santi.

Untuk tahun ini, tambah Santi, Mafindo memprediksi jumlah hoaks politik tetap menjadi target utama sejumlah pihak dalam menyebarkan hoax. Hal ini seiring dengan mendekatnya jelang pilpres pada April 2019 mendatang.

“Hoaks politik diprediksi tetap mendominasi setelah pilpres, siapapun pemenangnya, lazimnya diisi dengan hoaks yang mendelegitimasi pihak-pihak yang terkait dengan pilpres,” pungkas Santi.

sumber : cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.