Para Mantan Relawan Kapok Pilih Jokowi, Pindah ke Prabowo

detikislami.com – Sekitar 20 orang berkumpul di Taman Aspirasi Monas, Jakarta, Jumat (12/4). Mereka membentangkan poster bergambar wajah Joko Widodo berwarna merah, tulisan ‘Jokower’, hingga ‘Romansa Tim Transisi 2014’ dalam foto yang berisi sejumlah orang. Namun ini bukan aksi dukungan kepada calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo.

Mereka adalah para mantan pendukung Jokowi yang berpindah haluan ke kubu capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Itu bisa dilihat dari gambar-gambar lainnya yang digantung bertuliskan ‘Sorry, bro.. Kita pindah dukungan, Anda sudah gagal’, ‘Semua akan pindah pada waktunya’, ‘Projo Stop’, hingga ‘#GueKapokPilihJokowi’.

Tak ketinggalan, mereka mencoret-coret kaos yang dipakainya yang diduga bekas kaos relawan Jokowi-JK berwarna putih berkerah kotak-kotak. Mereka menambahkan tulisan ‘Mantan’ dan ’02.

Ya, itu adalah sebagian atribut yang meramaikan gelaran Foto Bareng Para Mantan dan Nyanyi Bareng ‘Gue Kapok Pilih Jokowi’.

Seorang orator yang memegang pengeras suara mobil pun bersuara di tengah-tengah para peserta aksi. Ia menyatakan kekecewaannya soal pemerintahan Jokowi. Selain itu, ia juga mengajak peserta yang hadir untuk menyanyikan ‘Gue Kapok Pilih Jokowi’.

Koordinator Aliansi Rakyat Merdeka (ARM) Jumhur Hidayat mengatakan para peserta merupakan mantan relawan Jokowi pada Pilpres 2014, tak terkecuali dirinya. Pihaknya kecewa dengan kinerja Jokowi selama 4 tahun ini yang berbeda dengan yang diharapkan sehingga beralih ke kubu 02.

“Orang-orang ini aktivis yang akhirnya kita bergabung bersama Jokowi dan alhamdulillah menang karena memang pada waktu itu kan ada gagasan-gagasan Jokowi yang memang sesuai dan satu visi dengan gerakan-gerakan aktivis ini,” tutur Jumhur, yang merupakan mantan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) ini.

“Kalau sekarang saya pribadi dan teman-teman mengatakan rezim ini berbeda sekali dengan yang pernah saya bayangkan yang pro rakyat, pro petani, membatasi impor, misalnya pro kepada buruh kesejahteraan buruh dan sebagainya, itu ternyata berbeda faktanya,” ia menambahkan.

Jumhur kemudian mencontohkan sejumlah kebijakan Jokowi yang mengecewakan. Misalnya, dalam bidang ketenagakerjaan. Ia menuding kini buruh tak bisa lagi melakukan perundingan upah karena itu ditentukan dari pusat. Selain itu, tenaga kerja asing di Indonesia tak disyaratkan lagi harus mahir berbahasa Indonesia.

Di samping itu, Jumhur menyebut tak ada lagi peraturan perbandingan pekerja asing dengan tenaga kerja lokal dalam satu perusahaan 1 berbanding 10.

“Artinya memang [pemerintah] memberi kesepakatan kepada pekerja asing untuk bekerja di Indonesia di saat kita memiliki jutaan pengangguran demi investasi dan itu hanya bisa dilakukan oleh negara yang frustasi negara yang miskin,” ujar Jumhur.

Seorang peserta aksi menunjukkan posisi dirinya dalam foto Tim Transisi.Seorang peserta aksi menunjukkan dirinya dalam foto Tim Transisi bersama Jokowi-JK. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jumhur juga kecewa dengan kebijakan politik luar negeri Jokowi, terutama kasus muslim Uighur di China.

“Contoh Uighur orang-orang yang dianiaya, disiksa, tapi kita tidak memberikan sikap pada negara yang merdeka dan apa namanya supaya mendorong bangsa-bangsa kita enggak berani menantang itu,” jelas Jumhur.

Dalam hal ekonomi, lanjutnya, Jokowi juga dinilai mengingkari tekadnya untuk tidak mengimpor.

“Jadi wajar kalo temen-temen semua pengen berbalik,” tandas Jumhur.

Lihat juga: Manuver Kejutan TGB Dukung Jokowi Dua Periode
Fenomena pindah kubu pada Pilpres 2019 bukan hal baru. Sejumlah tokoh diberitakan sudah menyeberang ke pihak yang pernah mereka kritisi sebelumnya. Misalnya, politikus Partai Golkar yang juga Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang pada Pilpres 2014 menyokong Prabowo-Hatta.

Selain itu, ada eks pengacara pemimpin FPI Rizieq Shihab, Kapitra Ampera, yang kini menjadi caleg PDIP; serta Ali Mochtar Ngabalin yang sebelumnya berada di pihak Alumni 212, yang kini masuk ke Kantor Staf Kepresidenan.

Di pihak 02, ada mantan menteri di Kabinet Kerja Jokowi-JK, seperti Tedjo Edhy Purdijatno, Ferry Mursyidan Baldan, hingga Rizal Ramli.

 

Sumber : cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.