Quo Vadis Partai Pendukung Jokowi-Amin

Oleh : Tito Sianipar*

Hasil penghitungan cepat pemilihan umum 2019 sudah bisa diperoleh dari berbagai media. Hasilnya hampir sama; memenangkan pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin atas pasangan penantang Prabowo dan Sandiaga Uno. Selisihnya beragam. Rata-rata antara 8 hingga 10 persen.

Hampir seluruh energi anak bangsa tercurah untuk hasil penghitungan calon presiden tersebut. Dan itu adalah hal wajar, mengingat hasilnya menentukan siapa yang berhak memimpin Indonesia 2019 sampai 2024. Setiap orang Indonesia punya preferensi ingin dipimpin siapa; tetap Jokowi atau Prabowo.

Namun di balik pertarungan kedua kandidat, ada pertarungan ‘kecil’ di belakangnya. Yakni antar partai-partai politik guna menentukan kursi yang mereka peroleh dalam lembaga legislatif untuk lima tahun ke depan. Penghitungan cepat berbagai lembaga survei juga sudah mempublikkan hasilnya.

Sejauh ini, secara umum PDI Perjuangan menjadi pemenang dengan perolehan sekitar 20 persen suara nasional. Diikuti Partai Gerindra dengan perolehan lebih dari 12 persen nasional. Lalu berturut Partai Golkar, PKB, PKS, Partai Nasdem, Partai Demokrat, PAN, lalu PPP. Sisanya kemungkinan tidak bisa mendudukkan wakilnya di Senayan hingga 2024.

Dari perolehan para partai peserta pemilu tersebut, ada lima partai yang suaranya melonjak dibanding pemilu 2014 lalu. Mereka adalah PKB, Partai Gerindra, PKS, Partai Nasdem, dan PDI Perjuangan. Lonjakan terbesar diperoleh oleh PKS yang naik 26 persen dibanding pemilu sebelumnya, lalu diikuti Partai Nasdem yang naik 23 persen.

Siapa 7 persen pemilih partai itu namun tidak memilih pasangan Jokowi-Amin?

Sementara peserta pemilu lainnya yang ikut di 2014 dan 2019 mengalami penurunan. Partai yang suaranya tergerus paling besar persentasenya adalah PKPI dan Partai Hanura, yakni kehilangan lebih dari 70 persen suara dibanding pemilu 2014. Sisanya diikuti PBB 48 persen, PPP 29 persen, Partai Demokrat 25 persen, Partai Golkar 19 persen, dan PAN 12 persen.

Jika dibandingkan, total kenaikan suara partai-partai kelompok pertama tadi adalah sekitar 7 persen, sementara total penurunan partai-partai kelompok kedua adalah sekitar 14 persen. Sisa suara yang tujuh persen lagi lari ke empat partai baru. Gampangnya; pemilih Partai Garuda, Partai Berkarya, Partai Perindo dan PSI adalah mereka yang dulunya memilih partai-partai kelompok kedua atau yang mengalami penurunan.

Lalu bagaimana peta keseluruhan partai terhadap pasangan calon presiden dan wakil presidennya? Lima partai pendukung pasangan Prabowo-Sandi (Partai Gerindra, PKS, PAN, Partai Demokrat, dan Partai Berkarya) total meraup sekitar 38 persen suara nasional. Bandingkan dengan perolehan Prabowo-Sandi yang diperkirakan 45 persen.

Sementara di kubu Jokowi-Amin, total perolehan partai pendukungnya untuk legislatif mencapai 62 persen. Sementara perolehan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut satu itu diperkirakan sekitar 55 persen suara nasional.

Pertanyaan yang muncul: siapa yang 7 persen pemilih partai itu namun tidak memilih pasangan Jokowi-Amin itu?

Menarik untuk mengetahui jawaban partai-partai pendukung Jokowi-Amin. Sama menariknya untuk menunggu jawaban kubu Prabowo-Sandi soal keberhasilan mereka meraup 7 persen suara nasional dari pemilih partai pendukung Jokowi-Amin.

*Penulis adalah wartawan lepas lulusan FISIP UI

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.