Mohamed Mursi, Sipil Pertama di Takhta Presiden Mesir

detikislami.com – Jakarta – Mohamed Mursi meninggalkan jejak sejarah sebagai presiden sipil pertama di Mesir ketika mengembuskan napas terakhirnya usai terkena serangan jantung di Pengadilan Kairo pada Senin (17/6).

Nama pemimpin Ikhwanul Muslimin itu diabadikan dalam sejarah sebagai presiden sipil pertama Mesir yang terpilih secara demokratis dalam pemilihan umum pada Juni 2012 lalu dengan suara 51,7 persen.

Semua pendahulu Mursi berasal dari militer. Namun, Mursi tampil dari kalangan sipil untuk menggantikan Presiden Hosni Mubarak yang dipaksa mundur melalui pemberontakan rakyat pada Februari 2011 lalu.

Di awal kemenangannya, Mursi menjanjikan agenda Islamis moderat untuk membawa Mesir menuju era demokrasi baru, di mana otokrasi digantikan oleh pemerintahan yang transparan dan menghormati hak asasi manusia.

Ia juga berjanji ingin menghidupkan kembali kejayaan Mesir yang telah lama turun. Pria kelahiran 1951 itu berjanji kepada rakyat Mesir bahwa ia akan membawa “kebangkitan kembali Mesir dengan landasan Islam.”

Alih-alih menjadi pemimpin demokratis, Mursi malah dikenal sebagai presiden yang memerintah bak firaun. Ia mengasingkan jutaan orang yang menuduhnya berupaya memperluas kekuasaan secara sewenang-wenang.

Di masa kepemimpinannya, ia juga disebut memaksakan nilai-nilai konservatif Islam dari Ikhwanul Muslimin dan salah mengelola perekonomian Mesir.

Pada 12 Agustus 2012, Mursi memecat menteri pertahanan sekaligus panglima militer Hussein Tantawi. Ia juga menghapus konstitusi yang memberikan kewenangan luas bagi militer di pemerintahan.

Dia juga mengambil alih kewenangan legislatif dengan menunjuk sendiri wakil presidennya, Mahmud Mekki.

Tak berhenti sampai di sana, sebagaimana dilansir AFP, Mursi juga memberhentikan Jaksa Agung Mesir, Abdel Meguid Mahmoud. Langkah itu menempatkan Mursi di luar kendali pengadilan.
Mursi, Presiden Sipil Pertama Mesir Temui Ajal di PengadilanDi masa kepemimpinannya, Mohamed Mursi disebut memaksakan nilai-nilai konservatif Islam dari Ikhwanul Muslimin. (Reuters/Stringer)
Sejak itu, kepemimpinan Mursi dibayangi penentangan dan demonstrasi. Kepemimpinan Mursi pun tak berlangsung lama.

Gelombang unjuk rasa mulai meluas pada Januari 2013 lalu, pada malam peringatan dua tahun penggulingan Mubarak.

Lima bulan setelahnya, demonstrasi besar-besaran berlangsung di berbagai penjuru negara, terutama di Kairo dan sejumlah kota besar lainnya. Mereka menuntut Mursi untuk mundukung
Pada 3 Juli, sang presiden digulingkan oleh angkatan bersenjata Mesir pimpinan panglima militer Abdel Fattah al-Sisi yang diangkat oleh Mursi sendiri.

Selama proses kudeta berlangsung, setidaknya lebih dari 1.400 pengunjuk rasa pro-Mursi tewas dan ratusan lainnya dihukum mati.

Pascapenggulingan, Presiden Mesir ke-5 itu divonis total 45 tahun penjara dengan tuduhan melakukan spionase terhadap Qatar dan menghasut kekerasan terhadap demonstran.

Mursi juga diadili dalam dua kasus lain dengan vonis hukuman mati dan penjara seumur hidup.

Mursi sendiri merupakan putra dari seorang petani yang tak sengaja terjun ke dunia politik. Tumbuh besar di sebuah desa di Provinsi Sharqiya, Mursi kemudian menjadi insinyur dari University of Southern California.

Ia terpilih sebagai presiden setelah pengusaha bernama Khairat al-Shater, didiskualifikasi sebagai kandidat presiden. Kabar ini mengejutkan karena Shater disebut-sebut sempat menjadi pilihan favorit Ikhwanul Muslimin untuk maju dalam pemilihan umum 2012 lalu.

 

Sumber : cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.