Apa Hukum Merayakan HUT RI dalam Islam?

detikislami.com – Selama ini ada pihak yang berpendapat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) RI itu bid’ah tapi ada yang mengatakan itu hanya adat saja. Akibatnya terjadi perbedaan pendapat dalam hal merayakan HUT RI.

Menghormati bendera

Lalu bagaimana sesungguhnya hukum merayakan HUT RI dalam kacamata Islam?

Menurut Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terdapat empat hal mendasar dalam ajaran Islam yang perlu dipahami, yaitu akidah, akhlak, ibadah dan muamalah duniawiyah.

Dalam hal muamalah, istilah bid‘ah ini tidak berlaku. Muamalah sendiri adalah segala hal atau perkara yang berhubungan dengan urusan duniawi.

Merayakan HUT RI dalam hal ini dapat dikategorikan ke dalam bidang muamalah sehingga pada dasarnya hal itu diperbolehkan, asalkan di dalam media yang digunakan untuk merayakan tidak melanggar aturan agama dan norma sosial.

Sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW:

Dari Anas (diriwayatkan), ia berkata: Pada masa Rasulullah baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka bersenang-senang. Rasulullah kemudian bertanya: Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini? Warga Madinah menjawab: Pada dua hari raya ini, dahulu di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang. Maka Rasulullah bersabda: Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri [HR. Abu Dawud].

Dalam memahami hadits tersebut, Majelis Tarjih dan Tajdid berpendapat bahwa larangan Nabi untuk membuat perayaan hari raya pada hari tertentu berlaku pada perayaan-perayaan yang terkait dan atau diyakini sebagai ibadah.

Apabila perayaan tersebut tidak terkait dengan ibadah, maka kami memandang itu sebagai bagian dari muamalah, sehingga hukum asalnya adalah boleh, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Kaidah fikih menyebutkan, hukum asal dalam permasalahan muamalah adalah mubah (boleh), tidak dilarang kecuali yang diharamkan oleh Allah.

Hukum asal segala sesuatu adalah mubah (boleh) sampai ada dalil yang menunjukkan ketidakbolehannya.

Seperti dilansir Suara Muhammadiyah, segala perkara tergantung niatnya. Termasuk yang dibolehkan dalam hal ini adalah pelaksanaan upacara sebagai salah satu bentuk refleksi atas perjuangan para pahlawan yang telah mampu mengibarkan merah putih sebagai tanda kemerdekaan.

Lalu bagaimana hukum hormat bendera merah putih?

Hormat kepada bendara bukan bentuk penyembahan

Dengan demikian, hormat kepada bendera ketika melaksanakan upacara juga bukan merupakan bentuk penyembahan (li al-ta‘abbud), melainkan sekadar wujud penghormatan (li al-ihtiram) kepada jasa para pahlawan yang telah mengorbankan seluruh jiwa raga demi kemerdekaan Indonesia.

Atas dasar itulah hormat kepada bendera bukan termasuk sesuatu yang dilarang dalam agama. Namun demikian yang perlu diperhatikan terkait upacara bendera dalam rangka merayakan kemerdekaan secara umum atau dalam upacara-upacara lain secara umum antara lain adalah pakaian yang dikenakan para petugas upacara seperti paskibra (pasukan pengibar bendera). Para paskibra ini hendaknya memakai busana yang sopan dan menutup aurat.

Selain itu juga perlu diingat, jangan sampai perayaan HUT RI yang dilakukan terjerumus pada perilaku israf (berlebih-lebihan) dan mubazir, yang justru akan menodai makna kemerdekaan itu sendiri. Dalam Alquran, Allah SWT telah melarang perilaku-perilaku tersebut:

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (Qs Al-A’raf [7]: 31).

 

 

 

Sumber : Okezone.com

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.