Anjuran Rasulullah untuk Memperbanyak Sujud

detikislami.com – Sujud adalah salah satu bentuk berserah diri kepada Allah. Bukan hanya dalam keadaan salat saja, ketika dalam bahagia pun disunahkan untuk sujud, yaitu dinamakan sujud syukur.

Anjuran memperbanyak sujud

Diriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’b, bahwa ia berkata:

“Aku menginap bersama Nabi SAW dan membantu beliau untuk menyiapkan air wudunya dan kebutuhan lainnya. Kemudian, Rasulullah bersabda, ‘Mintalah sesuatu kepadaku.’Aku menjawab, ‘Aku mohon agar bisa menemanimu di surga.’ Beliau menjawab, ‘Bukan lainnya?’Aku berkata, ‘Hanya itu saja.”Lalu, Nabi SAW bersabda, ‘Bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud’ (HR Ahmad, Muslim, An Nasai, dan Abu Daud).

Hadist tersebut menjelaskan, supaya kita dianjurkan untuk memperbanyak sujud, rukuk, dan mendirikan salat wajib, ditambah dengan tathawwu’ (salat sunat) bila kita ingin masuk surga.

Seperti dilansir website Islamic Center, sujud merupakan ibadah yang istimewa dalam Islam, karena jadi bagian rukun salat.

Sajdah (Bahasa Arab: سجدة) atau sujud (Bahasa Arab: سجود) merupakan kata Arab yang dapat disamaartikan dengan perbuatan menempatkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki pada kondisi serentak di lantai dengan tujuan tertentu karena Allah pada waktu dan saat-saat tertentu. Ketika sujud, bagi seorang Muslim terdapat bacaan-bacaa tertentu.

كَلَّا ؕ لَا تُطِعۡهُ وَاسۡجُدۡ وَاقۡتَرِبْ

“Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS Al-‘Alaq: 19).

Dengan memperbanyak sujud berarti akan menanamkan ketawadhuan pada dalam diri manusia. Kemudian, kelak akan terpancar keimanan dan kelembutan melalui wajahnya juga diharapkan menjadi penolong ketika di akhirat nanti.

Mi’dan bin Abi Tholhah berkata, “Aku bertemu Tsauban, budak Rasulullah SAW.”

Lalu dia bertanya, “Beritahukan kepadaku amalan yang bila aku lakukan maka Allah akan memasukkanku dengannya ke dalam surga.” Tsauban diam. Lalu, aku tanya lagi, tapi dia masih diam. Aku tanyakan yang ketiga kalinya, maka ia menjawab, “Aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, ‘Kamu harus memperbanyak sujud karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud sekali kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan dengannya satu dosa.’” (HR Muslim, Turmudzi, dan an-Nasa’i).

Ketika kita salat sendiri (Munfaridah), Rasulullah menyindir orang-orang ketika mereka sujud tapi dengan durasi yang cepat. Ini diibaratkan, seperti seekor ayam sedang mematuk. Dan ketika bersungguh-sungguh dalam melakukan sujud, maka terdapat bekas di wajahnya.

Tapi ada sebagian orang yang mengasumsikan, jika sujud adalah tanda bahwa orang itu ahli ibadah?

Ustadz Mahbub Ma’afi Ramdlan mengatakan, sepanjang yang diketahui, ukuran kesalehan seorang Muslim tidak ditunjukan dengan adanya tanda hitam di jidat. Melaikan terpancar dari akhlak dan budi pekerti yang luhur.

“Kendati demikian kami tidak menafikan bahwa ada sebagian orang saleh memiliki tanda hitam di jidatnya, tetapi bukan tanda yang dibuat dengan sengaja tetapi lebih karena seringnya bersujud,” katanya seperti dikutip dari laman NU Online.

أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلَ ثَفِنَةِ الْبَعِيرِ فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا كَانَ خَيْراً يَعْنِي كَانَ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ السُّجُودِ وَإِنَّمَا كَرِهَهَا خَوْفاً مِنَ الرِّيَاءِ عَلَيْهِ.

Bahwa beliau melihat seorang laki-laki yang di antara kedua matanya terdapat tanda seperti tsafinatul ba’ir. Lantas beliau berkata, “Seandainya tidak ada ini maka ia lebih baik.” Maksudnya adalah di keningnya ada bekas sujud. Beliau tidak menyukainya karena khawatir hal tersebut menimbulkan riya. (Lihat Ibnul Atsir, an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, Beirut al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet ke-1, 1426 H/2005 M, juz, I, h. 200).

 

Sumber : okezone.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.