Habibie, Islam dan Ikon Ilmu Pengetahuan

detikislami.com – Julukannya Mr. Crack. Ia diberi julukan ini karena menemukan penemuan penting yaitu progression crack theory atau teori keretakan yang  membuat sosoknya diperhitungkan Temuannya tersebut yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘Teori Habibie’ dan ‘Metode Habibie’. Teori ini kemudian dipatenkan dan diadopsi untuk kemajuan teknologi kedirgantaraan dunia hingga hari ini.

Namun, di balik kejeniusannya, Habibie juga dikenal sebagai pribadi Muslim yang patut diteladani. Dari sosoknyalah lahir ungkapan ‘integrasi iptek dan imtaq’. “Ilmu pengetahuan” dan “iman dan taqwa.“

“Orang yang hebat imtaqnya tapi tidak tahu iptek, dia tidak akan mampu menolong dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang ipteknya saja tetapi tanpa imtaq, bahaya, dia akan halalkan semua cara,” Ujarnya suatu waktu. Oleh karena itu Habibie selalu dijadikan role model genarasi muda Muslim dengan ungkapan ‘berotak Jerman, berhati Makkah’.

Habibie bukan hanya sekedar bapak teknologi, tapi juga motivator bagi kebangkitan intelektual Muslim. Ia adalah salah satu aktor lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 7 Desember 1990 di Malang. Habibie-lah yang menjadi ketua pertama dari perhimpunan tersebut.

Dikutip dari icmi.or.id, lahirnya ICMI beriringan dengan semangat kebangkitan Islam di belahan dunia timur ditandai dengan tampilnya Islam sebagai “ideologi peradaban” dunia dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia. Kebangkitan umat Islam ditunjang dengan adanya ledakan kaum terdidik (intelectual booming) yang di kalangan kelas menengah kaum santri Indonesia.

Berdirninya ICMI merupakan momentum penting umat Islam dalam sejarah berdirinya Indonesia. Walaupun awalnya perjalanan ICMI tidak mulus, tapi dengan kedekatan Habibie dan Presiden Soeharto waktu itu dapat melunakkan hati Presiden Soeharto yang sebelumnya hampir 20 tahun memiliki hubungan dengan kalangan Islam yang kurang harmonis sejak 1970 hingga 1990, dimana Presiden Soeharto dilingkari orang-orang seperti Jendral LB Moerdani di tubuh ABRI.

Saat itu Moerdani menghadapkan Umat Islam dengan tentara dan pemerintah, Banyak peristiwa-peristiwa berdarah terjadi, misalnya peristiwa Tanjung Priok pada 1984, hingga peristiwa Talangsari di Lampung 1989. Panglima ABRI dari 1983 hingga 1988 itu memang terkenal angker bagi orang-orang Islam di Indonesia.

ICMI bahkan dapat menyaingi peran  Center of Strategic and Internastional Studies (CSIS), sebuah lembaga think thank besutan  yang banyak membantu Soeharto merumuskan kebijakan Orde Baru. Hubungan Moerdani dengan CSIS sendiri sangat dekat, bahkan senior dan sahabatnya di ABRI, Ali Moertopo adalah salah satu pendirinya. CSIS sendiri sempat menggandeng Gus Dur untuk melawan ICMI dengan membentuk diantaranya ‘Fordem’ (Forum Demokrasi).

Fenomena pembentukan ICMI dan munculnya pemimpin militer dari kalangan Islam taat waktu itu menimbulkan kehebohan, terutama di lingkungan ABRI. Demikian catatan Harold Crouch, “ABRI and Islam”, 1995. Lantas muncul istilah “penghijauan ABRI” atau “ABRI Ijo Royo-royo” untuk menggambarkan propaganda yang diterima ICMI dan situasi panas yang terjadi pada awal dekade 1990-an tersebut.

Habibie pada akhirnya tetap berhasil meyakinkan dan bahkan berhasil mendekatkan Presiden Soeharto dengan kelompok Islam. Bahkan Presiden Soeharto pun akhirnya mengijinkan berdirinya Harian Umum Republika yang merupakan media Islam pada 4 Januari 1993. Berdirinya Republika dianggap sebagai ‘bayi ajaib’ pada saat media-media dibredel waktu itu.

Saat menjabat ketua ICMI, Habibie juga berjasa atas berdirinya Bank Syariah pertama di Indonesia pada 1 November 1991, yang bernama Bank Muamalat. Bank umum pertama di Indonesia yang menerapkan prinsip Syariah Islam dalam menjalankan operasionalnya.

Bukan hanya nasional, dalam kancah Internasional jasa Habibie juga tidak kalah penting. Bersama sahabatnya dari Turki, Necmetin Erbakan mereka menggagas D-8 atau Devoloping 8, yaitu sebuah organisasi untuk kerjasama pembangunan bidang ekonomi antara Negara-negara: Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malayasia, Nigeria, Pakistan dan Turki.

Pembentukan D-8 itu diumumkan secara resmi melalui deklarasi Istanbul yang dihadiri oleh Kepala Negara/Pemerintah Negara-negara Muslim pada tanggal 15 Juni 1997. Habibie berpendapat Negara-negera Muslim harus bersatu dan bergerak menjadi Negara-negara yang kuat.

Mimpi Era Tinggal Landas

Sepulang dari Jerman. Habibie membawa mimpi tentang Indonesia. Gagasannya adalah membangun industri manufaktur dan teknologi yang bermanfaat bagi Indonesia dan berpengaruh untuk dunia. Idenya sejurus dengan konsep renacana pembangunan pemerintahan Soeharto.  Presiden Soeharto merencanakan era tinggal landas, sebuah proyek pembangunan jangka panjang yang rencananya ditargetkan tercapai saat pergantian milenium di tahun 2000.

Kerangka landasan antara lain tercermin dengan tercapainya swasembada pangan dan pembuatan berbagai hasil industri di dalam negeri, bahkan presiden menunjuk kemampuan menangani industri canggih seperti dilakukan PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

“Kalau membuat pesawat saja sudah bisa, apalagi membuat bahan kebutuhan sehari-hari masyarakat” Kata Soeharto di penghujung tahun 1986 seperti dikutip dalam arsip Kompas waktu itu.

Pada tahun 1989 Majalah Historia mencatat, melalui Keppres No. 59 Habibie sebagai Menristek ditugasi mengkonsolidasii ‘industri strategis’ dengan memimpin BPIS. BPIS adalah Badan Pengelola Industri Strategis yang menaungi 10 perusahan manufaktur dan teknologi.

Di antara perusahaan itu adalah IPTN (bidang dirgantara), PT PAL Indonesia (bidang perkapalan), PT Pindad (bidang senjata dan pertahanan), PT Industri Kereta Api/INKA (bidang industri perkertaapian), dan perusahaan penting lainnya.

Beberapa perusahaan di bawah pimpinan Habibie mampu menunjukkan kapasitasnya dengan produk berkualitas. IPTN dan INKA menjadi yang paling menonjol.

IPTN berhasil mengembangkan pesawat N250 dengan menerapkan advanced turboprop fly by wire, yang merupakan teknologi tercanggih saat itu. Pesawat penumpang berkapasitas 50 orang yang dikembangkan dari rancangan asli IPTN itu ketika diluncurkan pada 1995 menjadi primadona di kelasnya sekaligus mencemaskan produsen pesawat dunia.

Seakan tak mau kalah, INKA juga berinovasi lewat pengembangan kereta api eksekutif berkecepatan tinggi: Argo Bromo JS950. Pada pengembangan pertama, INKA memanfaatkan lokomotif produksi GE Transportation System, Amerika Serikat (AS). Mampu berkecepatan 100 km/jam.

PT Pindad dan PT PAL juga setali tiga uang sebagai perusahaan yang melahirkan produk-produk canggih. PT. Pindad sukses membangun sejata SS-1 dan SS-2, senjata serbu otomatis yang kemampuannya di bawah AK-47. Sedangkan PT PAL berhasil membangun aneka kapal, dari kapal perang hingga tanker. Lagi-lagi perusahaan ini juga mengejutkan dunia.

Namun, krisis moneter yang menerpa Indonesia membuat kesepuluh industri strategis rontok. Pemerintah tak mampu berbuat banyak. Untuk menyelamatkan keuangan negara, presiden menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan International Monetary Fund (IMF) pada awal 1998.

Salah satu klausul dalam LoI itu mensyaratkan pemerintah menghentikan pendanaan yang disertakan ke dalam BUMN industri strategis dan menambah nilai saham BUMN yang dilepas ke publik. DPR menyetujui klausul ini karena menurut mereka BUMN-BUMN di bawah BPIS sangat kesulitan memperoleh profit. Pemerintah tak bisa menolak. BPIS akhirnya runtuh. Mimpi era tinggal landas pun pupus.

Presiden RI dan Islamophobia

Di masa kemelut 1998, Habibie naik menjadi Presiden dengan persoalan yang tak sederhana. Masalah yang paling keras menimpa adalah persoalan krisis ekonomi dan politik.

Kedekatannya dengan Islam, membuah BJ Habibie terus dihadang dari dalam negeri dan luar negeri.

Dari dalam negeri lahir Barisan Nasional (Barnas), pada Oktober 1998, organisasi yang didirikan jenderal-jenderal sekuler abangan dan dikenal Islamophobia, yang  mendesak  Habibie harus turun.

Di barisan gerakan mahasiswa beridelogi kiri misalnya; Forum Kota (FORKOT), KOMRAD, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) tokohnya, Garda Sembiring, Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (Komrad), dan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) yang aksi-aksi demonstrasi dan terorganisir dengan tujuan untuk menjatuhkan  B.J. Habibie. Tokoh FORKOT salah satunya adalah Adian Napitupulu, yang sekarang berbagung dengan PDI-P.

Pusat gerakan FORKOT di Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI). Aksi-aksi demonstrasi FORKOT yang dikenal radikal dan sering menyulut kekerasan sering diplesetkan menjadi Forum Komunis Total. Meski tuduhan komunis ini dibantah.

Selain itu ada Forum Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (FAMRED), LMD (organisasi metamorfosis PRD). Tokoh PRD adalah Budiman Sudjatmiko, juga bergabung ke PDI-P.

Ada juga  Pusat Informasi dan Jaringan Aksi Untuk Reformasi (PIJAR), pusatnya di Kampus Universitas Nasional. Tokoh Pijar adalah Yeni Rosadamayanti.

Habibie juga diserang dari luar negeri. Salah satunya adalah PM Singapura, Lee Kwan Yew. Lee mendatangi Pak Harto dan menolak Habibie.  Di mata Lee, Habibie  sebagai sosok “high cost and high tech project.”

Saat Habibie dilantik jadi presiden, Lee bahkan sempat ‘mengancam,’ “Nanti kalau Habibie jadi Presiden, dolar akan tembus Rp 16 ribu.”

Namun Habibie memilih bekerja dan tak menanggapi kritik. Faktanya, Ia berhasil mengatasi berbagai permasalahan bangsa dan memperbaikinya.

Beberapa contoh kecil tanda percepatan pemulihan ekonomi ala Habibie yakni membaiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang semula di posisi Rp 17.000 menjadi Rp 6.500. Inflasi yang semula double digit pun bisa dibalikkan keadaannya di masa pemerintahan yang relatif singkat.

Habibie contoh pejabat milik bangsa Indonesia jenius, relijius dan jujur. Ia rajin puasa Senin-Kamis dan dekat dengan berbagai kalangan. Ia dikagumi banyak kalangan karena kejeniusannya, khususnya kalangan Muslim.  Habibie mengangkat Letjen (Pur) ZAMaulani sebagai Kepala BAKIN (BIN).Seorang tentara yang memiliki latar belakang aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), bukan dari kubu LB Moerdani.

Semasa menjadi KABAKIN,   ZA Maulani, pernah mengatakan, BJ Habibie banyak ditelikung dan dikhianati, padahal ia banyak berjasa pada Bangsa Indonesia.

Salah satu jasa dan warisan penting peninggalan Habibie  adalah, kebebasan pers, membebaskan narapidana politik,  kebebasan menyalurkan aspirasi/berpolitik, penguatan MPR/DPR dan DPRD, Melahirkan UU Otonomi Daerah, dan membangun indepedensi Bank Indonesia. Menjadikannya sebagai sosok reformis peletak pondasi kenegaraan dan pemerintah yang demokratis. Dan itu ia lakukan hanya dalam waktu singkat. 517 hari.

Ia negarawan yang banyak mencerdaskan anak bangsa, dengan memberi ribuan anak anak Indonesia –baik di dalam atau luar negeri– dari beasiswa yang ia berikan.

Habibie memiliki andil lahirnya UU Zakat. Ia adalah presiden yang pertama kali menandatangani pengesahan UU Zakat No 38/99. “UU yang ditendatangai beliau juga melahirkan BAZNAS sebagai sebuah lembaga zakat yang dikelola Negara dan mengukuhkan LAZ sebagai gerakan masyakat dalam pengelolaan zakat,” kata Dirut BAZNAS, M. Arifin Purwakananta.

Kini BJ Habibie telah berpulang. Selamat jalan guru bangsa, kebanggaan negeri dan inspirasi semesta.

 

 

sumber : hidayatullah.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.