3 Ibadah yang Sangat Dicintai Allah Ta’ala

detikislami.com – Banyak riwayat hadis tentang fadhail amal yang menjelaskan tentang amalan yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala. Namun, para ulama hadis berkata bahwa jawaban Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadis-hadis tersebut disesuaikan dengan sang penanya.

Asma binti Rasyid ar-Ruwaisyid dalam ‘Ibadah yang Paling Dicintai Allah’ menyebut ada belasan ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala. Dari yang belasan itu, Asma menempatkan urutan pertama adalah iman kepada Allah; kedua, silaturahim; dan ketiga, amar makruf serta nahi munkar.

Sementara dalam tulisan ini dibahas ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala. berikut ini pemaparannya, sebagaimana dikutip dari Sindonews, Kamis (11/6/2020):

Faraidh

Menurut Asma, ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala, selain iman kepada-Nya, silaturahim, amar makruf dan nahi munkar, adalah faraidh (kewajiban). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda menyampaikan berita dari Rabb-nya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ عادى لي وليًا فقد آذنتُهُ بالحرب وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحبَّ إليَّ مما افترضْتُ عليه)) [أخرجه البخاري].

Artinya: “Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh ia mengumumkan perang dengan-Ku, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih kucintai dari yang Kuwajibkan kepadanya.” (HR Al Bukhari).

Wali-Ku yang dimaksud adalah wali Allah Subhanahu wa ta’ala. Mereka adalah orang yang berilmu, selalu taat kepada-Nya, ikhlas dalam ibadah-Nya.

Firman-Nya: “Dari yang kuwajibkan kepadanya”: Faraidh: Masuk di bawah lafaz ini semua kewajiban, fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, serta kewajiban yang zahir, yaitu perbuatan seperti wudu, salat, zakat, zakat fitrah, puasa, ihram, haji, dan jihad fi sabilillah.

Tazkiyah (pembersihan diri, meninggalkan) seperti zina, membunuh, meminum arak, riba, memakan daging babi, serta lainnya berupa segala yang diharamkan dan keji yang tampak darinya dan yang tersembunyi.

Kemudian kewajiban yang batin (tidak tampak) seperti mengetahui Allah Subhanahu wa ta’ala, mencintai-Nya, tawakal kepada-Nya, dan takut dari-Nya.

Asma mengatakan, menunaikan kewajiban adalah ibadah yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala dan yang paling kuat mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam melaksanakan kewajiban menurut cara yang diperintahkan berarti menjunjung perintah, menghormati yang menyuruh, mengagungkan-Nya dengan tunduk kepada-Nya, menampakkan keagungan rububiyah, dan merendahkan ubudiyah. Maka mendekatkan diri dengan hal itu adalah ibadah yang paling agung.

Kewajiban yang paling dicintai adalah salat dalam waktunya. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ‘Apakah ibadah yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala? Beliau menjawab, ‘Sholat dalam waktunya’.”

Menurut Ibnu Baththal, hadis ini menjelaskan bahwa memulai sholat di awal waktunya lebih utama daripada menundanya, karena sesungguhnya disyaratkan padanya bahwa amal yang paling dicintai adalah bila dilaksanakan dalam waktunya yang dianjurkan.

Sementara menurut Ath-Thabari, sesungguhnya orang yang menyia-nyiakan sholat yang diwajibkan hingga keluar waktunya tanpa ada udzur, padahal mudah melaksanakannya dan besar keutamaannya, maka ia lebih menyia-nyiakan bagi yang lainnya.

Maka mengeluarkannya dari waktunya adalah haram, dan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

[ الماعون:4-5]

Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.” (QS Al Ma’uun: 4–5)

Lalu firman-Nya: “Bagi orang-orang yang salat” yaitu orang-orang yang melaksanakan sholat, kemudian mereka lalai darinya. Bisa jadi meninggalkannya sama sekali dan bisa jadi melalaikannya dari waktunya yang sudah ditentukan secara syara’ maka ia mengeluarkannya dari waktunya secara menyeluruh.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Orang-orang yang menundanya dari waktunya. Dari Abul ‘Aliyah: Mereka tidak melaksanakannya dalam waktu, tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”

Orang-orang yang lalai dari sholatnya, bisa jadi dari waktunya yang pertama, maka mereka menundanya hingga akhirnya secara terus-menerus atau biasanya, bisa jadi lalai dari menunaikannya dengan rukun-rukunya dan syarat-syaratnya menurut cara yang diperintahkan, bisa jadi lalai dari khusyuk dan tadabur terhadap makna-maknanya.

Witir

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((وإن الله وترٌ يحبُّ الوتر)) [رواه مسلم].

Artinya: “Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala witir (ganjil) menyukai yang witir.” (HR Muslim).

Menurut Asma, witir sama dengan tunggal. Maknanya dalam sesuai sifat Allah Subhanahu wa ta’ala, Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada taranya.

Esa pada zat-Nya, maka tidak ada yang serupa dan bandingnya. Esa pada sifat-Nya maka tidak ada yang menyerupai dan setara. Esa pada perbuatan-Nya maka tidak ada sekutu dan pembantu bagi-Nya.

Ada yang berpendapat, sesungguhnya makna “menyukai witir” mengutamakan yang witir dalam amal ibadah, maka Dia menjadikan sholat lima waktu, bersuci tiga kali, thawat tujuh kali, sai tujuh kali, melontar jumrah tujuh kali, hari-hari tasriq tiga hari, istinja tiga kali, dan demikian pula kafan.

Dia menjadikan mayoritas makhluk-Nya yang besar berjumlah witir, di antaranya langit, bumi, laut, hari-hari dalam seminggu, dan yang lainnya.

Ada yang berpendapat, sesungguhnya maknanya ditujukan kepada sifat orang yang menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala dengan wahdaniyah secara ikhlas. Ada yang berpendapat, memberi pahala dan menerimanya. Ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah salat witir berdasarkan hadis:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إن الله وتر يحب الوتر فأوتروا يا أهل القرآن )) [أخرجه الترمذي]

Artinya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menyukai witir, maka salat witirlah wahai ahli Alquran.” (HR At-Tirmidzi). Akan tetapi makna hadis itu tidak hanya untuk pengertian itu, bersifat umum lebih tampak.

Berbakti kepada Kedua Orangtua

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: Apakah ibadah yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala?”

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الصلاة على وقتها» قلتُ: ثم أي قال: «ثم بر الوالدين)) [رواه البخاري].

Beliau menjawab: “Salat dalam waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua orangtua.” (HR Al Bukhari)

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa berbakti kepada kedua orangtua adalah ibadah yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala setelah sholat yang merupakan fondasi Islam yang paling besar dan mengurutkannya dengan ‘kemudian’ yang memberikan urutan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ﴾ [ الإسراء :23-24 ]

Artinya: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al Isra: 23–24)

قال الله تعالى: ﴿ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ ﴾ [ لقمان :14 ]

Artinya: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman: 14)

Makna kami katakan kepadanya: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu dan ada yang berkata, bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap nikmat iman dan kepada kedua orang tua terhadap nikmat pendidikan.”

Menurut sejumlah ulama, manusia paling berhak –setelah Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pencipta– disyukuri, berbuat baik, berbakti, taat, dan patuh kepada orang yang disertakan Allah Subhanahu wa ta’ala berbuat baik kepadanya dengan ibadah dan taat serta syukur, mereka adalah kedua orangtua.

Di antara berbakti kepada mereka, menghadapi mereka dengan ucapan yang menunjukkan kemuliaan, yaitu yang tidak ada cacat. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه!! قيل: من يا رسول الله قال: من أدرك أبويه عند الكبر أحدهما أو كليهما فلم يدخل الجنة»)) [رواه مسلم].

Berlumpur hidungnya, berlumpur hidungnya, berlumpur hidungnya. Ada yang bertanya: “Siapakah ya Rasulullah? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Orang yang mendapati kedua orang tuanya saat tua, salah seorang atau keduanya, maka ia tidak masuk surga.” (HR Muslim)

Orang yang beruntung adalah yang segera mengambil kesempatan berbakti kepada keduanya agar tidak hilang kesempatan dengan wafatnya, maka ia menyesal atas hal itu. Dan orang yang celaka adalah yang durhaka kepada mereka, terutama orang sampai perintah kepadanya untuk berbakti kepada mereka.

Termasuk berbakti kepada mereka, tidak menghardik mereka, namun berbicara kepada mereka dengan ucapan yang sopan.

Kasih sayang kepada mereka dan merendahkan diri seperti budak kepada tuannya. Memohon rahmat dan berdoa untuk mereka, menyayangi mereka sebagaimana keduanya menyayanginya. Bersikap lembut kepada mereka sebagaimana keduanya bersikap lembut dengannya. Akan tetapi taat kepada orangtua tidak sampai melanggar dosa dan tidak pula sampai meninggalkan fardhu ‘ain. [Al]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.