BPN Sebut Elektabilitas Prabowo Meningkat di Jawa Tengah Setelah Gencar Lakukan Kampanye

detikislami.com – Jakarta – Menjelang Pilpres 2019, elektabilitas masing-masing pasangan calon (paslon) presiden terus menjadi sorotan dan hasil survei selalu diperbarui.

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Ahmad Muzani menyebut elektabilitas Prabowo meningkat di Jawa Tengah.

Ahmad Muzani juga menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin menurun.

Meningkatnya elektabilitas tersebut lantaran belakangan ini Prabowo-Sandiaga Uno gencar melakukan kampanye di Jawa Tengah.

“Suara Pak Prabowo di Jawa Tengah sudah mulai meningkat. Suara Jokowi berkurang,” ujar Muzani saat ditemui Kompas.com di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (22/2/2019).

Kenaikan elektabilitas tersebut diketahui dari survei internal yang dilakukan BPN.

Namun, ia tak membeberkan berapa besar kenaikan elektabilitas Prabowo-Sandiaga Uno di Jawa Tengah.

Meski elektabilitas Prabowo-Sandiaga Uno naik di Jawa Tengah, PoliticaWave mencatat, secara keseluruhan paslon Jokowi-Ma’ruf masih unggul.

Per tanggal 22 Februari 2019, PoliticaWave mencatat paslon Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul dari paslon Prabowo-Sandiaga Uno.

Berikut pantauan Tribunnews.com terhadap elektabilitas Jokowi vs Prabowo melalui PoliticaWave.com.

Dalam Trend of Awareness, persaingan kedua paslon sangatlah ketat dengan perbedaan angka yang sangat tipis dibanding data-data sebelumnya.

Angka trend paslon Jokowi-Ma’ruf Amin adalah 45.609, masih sedikit unggul dari paslon Prabowo-Sandiaga Uno dalam angka 37.952.

Dari segi Candidate Electability, Jokowi-Ma’ruf Amin unggul jauh di atas Prabowo-Sandiaga Uno, termasuk dari segi buzzer.

Angka yang dicapai Jokowi-Ma’ruf Amin yakni:

– Net sentiment: 705.386
– EMSS: 56
– Unique User: 243.164
– Buzzer: 1.709.136

Sementara itu, secara keseluruhan dari segi Candidate Electability Prabowo-Sandiaga Uno masih di bawah Jokowi-Ma’ruf Amin.

Berikut angka pencapaian Candidate Electability Prabowo-Sandiaga Uno:

– Net Sentiment: 558.032
– EMSS: 44
– Unique User: 182.295
– Buzzer: 1.329.472

Secara keseluruhan, Jokowi-Ma’ruf Amin memang unggul dari Prabowo-Sandiaga Uno, termasuk dalam persentase Share of Awareness dan Share of Citizen.

Persentase Share of Awareness Jokowi-Ma’ruf Amin 56,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga Uno 43,8 persen.

Persentase Share of Citizen Jokowi-Ma’ruf Amin 57,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga Uno 42,8 persen.

Jokowi-Ma’ruf Amin mendapatkan Sentiment positif lebih banyak daripada sentiment negatif dengan selisih yang cukup jauh.

Sentiment positif Jokowi-Ma’ruf Amin mencapai 633.210, sementara Sentiment negatifnya sejumlah 501.875.

Sementara perolehan Sentiment Prabowo-Sandiaga Uno memiliki selisih yang cukup tipis antara positif dan negatif, tetapi sentimen positif masih lebih banyak.

Sentiment positif yang didapat Prabowo-Sandiaga Uno 385.633, sementara sentiment negatifnya sejumlah 385.720.

Peran buzzer terhadap elektabiltas masing-masing paslon cukup besar.

Satu peran buzzer dalam Pilpres 2019 adalah menyebarkan berita provokatif hingga hoaks.

Buzzer pada umumnya mulai bekerja di media sosial.

Mereka banyak menebar isu, berita bohong, hingga cenderung menjelek-jelekan satu paslon capres 2019 lawan.

Hal ini bertujuan untuk mengubah pandangan hingga mempengaruhi masyarakat terhadap calon presiden tersebut.

Agar calon presiden lainnya berhasil memenangkan pemilu 2019 nanti.

Mengutip dari Tribunnews.com, gaji seorang buzzer profesional bisa menembus angka Rp 100 juta.

“Dapat uang masing-masing Rp 100 juta minimal untuk bos-bosnya.”

“Bisa lebih. Mereka proyekan sampai Pilpres selesai,” ungkap Andi, seorang buzzer profesional yang mendapat order pada Pilpres 2019 saat ditemui Tribun Network di kawasan Bekasi, Jawa Barat, pertengahan Februari 2019.

Hal terpenting bagi mereka adalah berita-berita tersebut bisa menjadikan polemik di tengah pilpres.

Mereka membuat berbagai macam fake account hingga fake news dan membuat berita-berita dengan kata kunci yang membuat trending.

Soal kebenaran informasi tersebut mereka juga tidak peduli.

Andi juga menambahkan soal hoaks atau bukan, mereka tak peduli yang penting sudah bekerja sesuai dengan orderan.

Mengutip dari sumber yang sama, sistem pembayaran dan besarnya upah buzzer diklasifikasi berdasarkan tingkatan.

Setingkat supervisor akan dibayar Rp 7 juta per bulan, disertai fasilitas kos atau kontrakan serta uang pulsa.

Kemudian, buzzer yang berada di tingkatan mandor dibayar Rp 3 juta per bulan.

“Untuk kasta terendah itu Rp 300 ribu.”

“Kalau untuk customize, per hari Rp 100 ribu. ”

“Orang-orang ini dibayar karena rajin online.”

“Tugasnya hanya untuk menyebar konten,” tambah Andi.

Andi masuk buzzer sejak tahun 2011 untuk misi mengawal calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012.

Andi turun menjadi Buzzer pada Pilgub DKI tahun 2017 hingga Pilpres 2019 ini.

Terkait Pilpres dan Pileg 2019, Andi menuturkan, pemain buzzer umumnya melanjutkan pekerjaan sejak Pilgub DKI Jakarta tujuh tahun silam.

“Semuanya orang lama dari Pilkada Jakarta 2012. ”

“Sekarang, mereka ikut lagi dengan mendukung pasangan yang berbeda-beda,” ucap Andi.

sumber : tribunnews.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.