Cara Mendidik Anak secara Islami dengan 5 Prinsip Dasar

detikislami.com – Anak adalah amanah bagi setiap orang tua. Sudah kewajibannya untuk mendidik anak jadi manusia yang saleh dan produktif. Setiap orang tua memiliki cara mendidik anak mereka sendiri, disesuaikan dengan latar belakang dan kebutuhan anak. Tapi, penting bagi orang tua muslim untuk mendidik anak dengan cara islami.

Cara mendidik anak secara islami memang tidak mudah, butuh kesabaran dan pola asuh yang tepat. Tidak sedikit orang tua mengalami kesulitan dan merasa kewalahan saat menghadapi anak-anak. Dalam Islam, mendidik anak jadi saleh tidak hanya untuk kebaikan anak kelak, tapi juga untuk kebaikan orang tua dan orang lain di sekitarnya.

Seperti yang diriwayatkan Abi Dawud, “ Ketika seseorang meninggal, tindakannya tidak akan dilanjutkan kecuali dengan tiga hal, sedekah, pengetahuan bermanfaat, dan seorang anak saleh berdoa untuknya.” Inilah pentingnya mendidik anak agar jadi anak saleh yang jujur dan bertanggung jawab.

Ada lima prinsip dasar mengasuh anak dalam Islam yang bisa dilakukan oleh orang tua agar anak jadi pribadi yang bermanfaat, saleh, dan bertanggung jawab.

Cara Mendidik Anak, Anak itu Masih Suci

Ketika anak melakukan kesalahan, cara ini penting untuk dilakukan. Perlu kita ingat sejak anak lahir, kalau mereka masih suci, polos dan berbeda dengan orang dewasa. Perilaku manusia dapat dibedakan menjadi dua, perilaku yang dipengaruhi oleh karakter internalnya, dan perilaku yang dipengaruhi oleh situasi sosialnya.

 

Dua macam perilaku manusia tersebut, juga terjadi pada anak-anak. Anak-anak dilahirkan dalam keadaan suci, murni, tanpa dosa, dan memiliki kecenderungan untuk melakukan kebaikan. Apabila dalam masa pertumbuhannya ia tidak dididik dengan baik, bisa jadi perilaku anak akan berubah karena pengaruh eksternal di lingkungannya.

Cara mendidik anak agar ia tetap terjaga dari lingkungan yang kurang baik, bisa dimulai dari orang tua dan lingkup rumah terlebih dahulu. Misalnya, ketika anak melakukan kesalahan, jangan dikasari apalagi melakukan hukuman fisik, karena anak-anak cenderung berperilaku meniru apa yang ia lihat dengar dan rasakan. Ciptakan lingkungan keluarga yang ramah dan penuh kasih sayang.

Cara Mendidik Anak dengan Contoh

Lingkungan anak saat masih kecil, terbatas pada lingkungan orang tua, rumah, dan orang-orang di sekitarnya. Jika anak berbuat salah, perlu dikoreksi darimana ia meniru perilaku salah tersebut. Bisa jadi, anak meniru apa yang dilakukan orang tua, seperti apa yang mereka lihat dan dengar.

 

Dari kondisi tersebut, cara mendidik anak secara Islami yang paling mendasar ialah orang tua harus berperilaku yang baik dan jadi contoh baik bagi anak. Tanpa disadari orang tua, kadang anak melihat kebiasaan-kebiasaan orang tua dan akan meniru. Jadi, orang tua harus benar-benar berhati-hati dalam berperilaku dan bertindak.

Seperti riwayat Al-Bukhari, “Anda (Kalian) adalah wali dan bertanggung jawab atas dakwaannya. Penguasa yang memiliki otoritas atas orang adalah wali dan bertanggung jawab atas mereka, seorang lelaki adalah penjaga keluarganya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang wanita adalah penjaga rumah dan anak-anak suaminya, bertanggung jawab atas mereka…”

Dari riwayat tersebut, kita bisa tahu kalau setiap orang tua akan dipertanyakan bagaimana tanggung jawab mereka dalam mendidik anak di hari akhir kelak.

Cara Mendidik Anak dengan Kebaikan dan Kasih Sayang

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok penuh kasih sayang pada orang-orang di sekitarnya, terutama pada anak-anaknya. Dalam sebuah riwayat Abdullah bin Shaddad dikatakan bahwa, ketika Rasul sedang salat dan bersujud, seorang anak menaiki punggung Rasul, dan dibiarkan. Bahkan Rasul sangat lama bersujud menunggu sang anak turun dengan sendirinya.

 

Rasul mengajarkan pada kita, sifat dasar anak adalah bermain. Sudah wajar kalau mereka berbuat demikian, dan Rasul tidak berusaha menghentikan mereka, karena bermain dan bercanda penting untuk perkembangan anak. Baik perkembangan fisik, emosional, kognitif, dan sosial.

Cara mendidik anak secara Islami tidak harus selalu memaksa anak untuk belajar dan belajar, biarkan anak bermain dan bebas berekspresi seperti yang mereka inginkan. Jangan marahi mereka ketika berbuat salah, beri penjelasan dengan kasih sayang. Seperti yang sudah dilakukan oleh suri tauladan umat Islam, Nabi Muhammad SAW.

Cara Mendidik Anak dengan Memahami Batasan

Dalam Islam, kita diajarkan tentang adanya batasan. Entah itu batasan dalam mengurusi urusan orang lain dan batasan bagaimana dalam bersikap dalam bermasyarakat. Batasan ini juga berlaku dalam cara mendidik anak secara Islami.

Anak membutuhkan batasan dalam pengasuhan. Dalam mengasuh anak, orang tua perlu memahami bahwa anak butuh kebebasan dalam bertindak dan berperilaku. Sangat penting untuk meminta pendapat anak, apabila orang tua hendak melakukan sesuatu pada anak.

Cara mendidik anak ini bisa dilakukan dengan menetapkan aturan dan batasan untuk setiap anggota keluarga, termasuk orang tua. Misalnya saja, ketika anak berada di jam bermain atau belajar, jangan ganggu mereka. Aturan dan batasan tersebut bisa dituliskan dalam selembar kertas yang menarik perhatian anak. Beri visualisasi warna-warni dan beri hadiah bila anak berhasil berperilaku baik sesuai aturan dan batasan tersebut.

Cara Mendidik Anak dengan Tanggung Jawab Sederhana

Cara mendidik anak secara Islami yang terakhir ialah dengan memberi anak tanggung jawab. Sekecil apapun tanggung jawab tersebut, bila anak bisa melakukannya dengan baik, akan sangat berguna bagi perkembangan anak dan bisa jadi bekalnya kelak saat dewasa.

 

Tanggung jawab mengajarkan anak untuk mandiri, jadi anak yang bisa diandalkan dan produktif. Misalnya saja saat bermain di rumah, beri ia tanggung jawab untuk membereskan sendiri mainan mereka dan menatanya dengan baik. Hal ini mungkin sepele, namun akan sulit dilakukan kalau anak sudah enggan dan tidak diberi contoh terlebih dahulu.

Memberi anak tanggung jawab sejak dini, bisa dilakukan dengan hal-hal kecil sederhana. Jangan memberi tanggung jawab yang terlalu besar, dan justru akan membebani anak. Beri pemahaman pada mereka betapa pentingnya tanggung jawab tersebut, dan risiko apa yang harus mereka terima kalau tanggung jawab itu tidak dilakukan dengan baik. [Mas]

 

Sumber : dream.co.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.