Gereja Bethel dan FPI Bangun Toleransi Beragama di Petamburan

detikislami.com – Meski hanya berjarak 210 meter dari kantor pusat Front Pembela Islam (FPI), Gereja Bethel yang berlokasi di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Barat, selalu dapat melaksanakan peribadatan dengan baik dari tahun ke tahun. Termasuk perayaan Natal tahun ini.

Sugiono sebagai pendeta Gereja Bethel mengaku tidak merasa khawatir terkait posisi gereja yang dikelilingi oleh pos-pos organisasi kemasyarakatan (ormas), termasuk FPI.

“Selama ini kami membangun hubungan yang baik (dengan ormas). Jadi kita harus mengembangkan toleransi itu,” kata dia saat ditemui IDN Times, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Barat, Sabtu 24 Desember 2017.

1. Tidak pernah terjadi konflik keagamaan

Sugiono mengatakan hubungan baik antara pihak gereja dengan FPI dinilai mampu meredam segala potensi konflik.

“Kadang-kadang ada persoalan kecil, tapi bisa kita selesaikan dan redam supaya tidak berkembang. Puji Tuhan tidak pernah ada konflik agama. Kita benar-benar jaga. Sudah sekitar 30 tahun saya di sini, saya suka ngobrol dengan mereka (FPI) dan enggak pernah menyinggung keyakinan,” ungkap pria yang sudah tinggal di Petamburan sejak 1984 itu.

2. Forum toleransi tingkat kecamatan

Menurut Sugiono, demi menjaga toleransi umat beragama, Kecamatan Tanah Abang kerap mengadakan pertemuan antar-ormas di kantor setempat.

“Ada kegiatan di kecamatan yang memfasilitasi bagaimana toleransi berkembang. Jadi kita ketemu tokog agama, masyarakat dalam lingkup kecamatan, termasuk FPI. Kayak pas Lebaran ada silaturahmi, halal bi halal, setelah tahun baru,” ujar dia.

Sugiono menyebutkan kegiatan di kecamatan biasanya membahas tentang pengamanan kampung setemppat. “Saya gak pernah ngobrol ke sana (masalah agama). Kita kan sama-sama menjaga,” kata dia.

3. FPI dikenal sebagai ormas yang dewasa

Meski Sugiono mengaku belum pernah berinteraksi langsung dengan pimpinan FPI, namun dia percaya FPI ormas Islam yang dewasa.

“Yang menyulut itu dari luar. Menurut saya ada tingkatan yang bisa dikompromisasikan. Ada lapisan bawah yang kurang dewasa, kurang pengetahuan tentang toleransi. Tapi banyak juga yang dewasa. Ada beberapa pengurus FPI sekitar sini. Jadi kami berteman. Kalau ada apa-apa saling menghargai,” kata dia.

4. FPI ormas proaktif

Dalam momentum tertentu, menurut Sugiono, FPI kerap membantu tanpa diminta, apabila gereja tengah mengadakan kegiatan.

“Mereka pro-aktif. Karena mereka ada timnya. Seperti bantu pengamanan parkir bareng teman-teman FBR (front Betawi Rembug) dan FPI. Jadi mereka bantu kelancaran kendaraan,” tutur sang pendeta. [San]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.