Isi Surat Ali bin Abi Thalib ke Sahabat Salman Soal Dunia

detikislami.com – Salah satu sahabat Nabi yang karismatik dan memiliki tempat di hati umat Islam adalah sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sebagai sahabat Nabi yang juga masih keluarga dekat, benarkah karisma Sayyidina Ali hanya karena faktor kedekatannya sebagai keluarga Nabi? 

Dalam buku Ali bin Abi Thalib karya Ali Audah dijelaskan, sayyidina Ali bin Abi Thalib memiliki karakter yang mulia. Hal ini memang tak lepas dari bimbingan langsung Rasulullah SAW, di mana sejak dini sayyidina Ali telah hidup bersama Rasulullah SAW layaknya anak sendiri.  

Di usia sayyidina Ali yang ke-30 tahun, di tengah-tengah para sahabat yang sebagian sudah dua kali lipat umurnya, khalifah Abu Bakar selalu meminta pendapat sayyidina Ali dalam menghadapi persoalan. Selama masa itu, dia lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada ilmu dan belajar-mengajar.  

Sayyidina Ali boleh dikatakan merupakan seorang yang zahid, hidupnya lebih banyak dihabiskan dalam menahan lapar, beliau tangguh dan kuat dalam menahan diri dalam masalah-masalah dunia, dan merupakan sosok yang tekun beribadah. Dalam suratnya kepada Salman, sayyidina Ali bin Abi Thalib menulis: 

 مَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ الْحَيَّةِ ، لَيِّنٌ مَسُّهَا ، وَ السَّمُّ النَّاقِعُ فِي جَوْفِهَا “Ya Salman, fainnama matsalu ad-dunya mitsla al-hayyati layyinun massuha wa assammu annaqi’ fi jaufiha.” Yang artinya: “Wahai Salman, kehidupan dunia ini seperti ular, lembut diraba tetapi bisa di mulutnya mematikan.”  

Sayyidina Ali juga diberkahi Allah dengan beberapa keistimewaan. Selain dikenal sebagai orang yang zahid, beliau juga merupakan orang yang wara (orang yang menjauhi segala macam dosa dan syubhat). Beliau juga merupakan orang yang sarat dengan ilmu.  

Bahkan tak jarang, sayyidina Ali kerap menjadi tempat para sahabat-sahabat terkemuka bertanya dalam masalah hukum agama yang musykil atau tentang makna sebuah ayat dalam Alquran atau tafsirnya. Sayyidina Ali bukan saja memahami Alquran dan tafsirnya, melainkan juga memahami asbabun-nuzul ayat-ayat Alquran.   

Kecerdasan yang dibarengi dengan kesalehan beliau kerap menjadikan Sayyidina Ali dimintai fatwa para sahabat. Terutama dalam hal-hal atau perkara yang rumit. Ibnu Abbas sebagai mufasir (ahli tafsir) bahkan berpendapat bahwa dalam menafsirkan Alquran, beliau kerap belajar dari sayyidina Ali. [Mas]

 

Sumber : republika.co.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.