Kenapa Fatimah Dipanggil Az-Zahra’?

detikislami.com – Dialah buah hati Rasulullah saw. Bunga yang harum semerbak. Beliau saw. menyebutkan sebagai salah satu dari wanita terbaik di seluruh dunia.

Dari Anas, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Cukuplah untukmu dari wanita-wanita di seluruh dunia ini Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Firaun.” (Musnad Ahmad, 12726, Shahih)

Rasulullah memberinya gelar az-Zahra’, karena dia adalah bunga beliau yang harum baunya dan putri yang paling dicintainya, karena dia adalah bungusu dan yang mampu menjaga kelestarian keturunan Rasulullah. Apabila beliau saw masuk ke rumahnya, dia berdiri, mencium tangannya dan mempersilakan beliau duduk di tempatnya.

Ialah sayyidah Fathimah az-Zahra’ binti Rasulullah saw. dari Ummul Mu’minin Aisyah ra. Ia berkata, “Aku tidak melihat seorangpun yang lebih mirip perangainya, petunjuknya dan penunjukkannya—Al-Hasan berkata: ucapan, omongan, petunjuk dan penunjukkannya, dengan Rasulullah saw—daripada Fathimah, semoga Allah memuliakan wajahnya.

Apabila Fathimah masuk ke rumah Rasul, maka beliau saw memegang tangannya dan menyuruhnya duduk di samping beliau, seraya menyampaikan ucapan selamat datang. Apabila beliau saw pulang dari peperangan atau bepergian maka beliau selalu masuk masjid terlebih dahulu untuk mengerjakan shalat sunnah, kemudian brkunjung ke rumah Fathimah az-Zahra’, kemudian barulah beliau mengunjungi istri-istrinya ra.

Az-Zahraa’ lahir sebelum ayahnya diutus menjadi Rasul Allah. Usia beliau saw ketika itu adalah tiga puluh lima tahun. Saat terjadi peristiwa pembangunan kembali Ka’bah. Yang karena kebijaksanaannya, beliau mampu meredam api peperangan antar-suku yang memperebutkan siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad.

Sayyidah Fathimah menyaksikan berbagai kejadian luar biasa, saat kaum Muslimin menjadi korban pemboikotan keras kalangan Quraisy dan Bani Hisyam di Syi’b Abu Thalib. Iapun merasakan kepedihan mendalam saat ditinggalkan wafat oleh ibunya Sayyidah Khadijah.

Enam bulan setelah Wafatnya Rasulullah saw., sayyidah Fathimah juga menghadap kepada naungan Rabbnya. Dia dimakamkan di Baqi’ pada malam Selasa, tanggal tiga Ramadhan, tahun kesepuluh Hijrah saat berumur dua puluh delapan tahun. [Al]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.