Kisah Batalnya Haji dan Umrah di Masa Rasulullah

detikislami.com – Kementerian Agama memutuskan untuk membatalkan keberangkatan jemaah haji 2020 ke Arab Saudi karena pandemi virus corona (SARS-CoV-2) yang sedang berlangsung. Pembatalan ibadah haji dan umrah ini bukanlah yang pertama kali bagi umat Islam.

Pembatalan ibadah haji dan umrah juga pernah terjadi di masa Rasulullah SAW pada tahun keenam Hijriah atau 1436 tahun silam. Kala itu Rasulullah yang telah hijrah ke Madinah bermimpi memotong rambutnya, memasuki Ka’bah, dan memegang kunci Ka’bah.

Nabi Muhammad lalu menyampaikannya kepada para sahabat dan memutuskan untuk melakukan umrah. Umrah merupakan salah satu kesempatan mengunjungi Mekkah sekaligus beribadah kepada Allah SWT.

Mendengar kabar itu, para sahabat sangat gembira karena kerinduan yang sudah lama terpendam untuk berkunjung ke Mekkah, Ka’bah, rumah Allah.

Nabi Muhammad dan para sahabat yang besar di Mekkah merindukan keluarga dan sanak saudara yang ada di kota itu. Kesibukan menstabilkan kondisi ekonomi dan politik di Madinah serta menghadapi musuh membuat Nabi Muhammad jarang berkunjung ke Mekkah.

Nabi Muhammad SAW beserta kaum Muslimin berjumlah 1.000 jemaah pun bersiap-siap berangkat menuju Mekkah.

Namun di wilayah Hudaibiyah sekitar 22 km dari Mekkah, Nabi dan para sahabat ditahan oleh Kaum Quraisy Mekkah. Mereka tak boleh melaksanakan umrah dan terpaksa kembali ke Madinah.

“Tidak boleh melanjutkan menuju Mekkah untuk melaksanakan umrah, sehingga terjadilah perjanjian Hudaibiyah. Di sinilah iman para sahabat di uji,” kata Ustaz Mahfud Said.

Perjanjian Hudaibiyah berisi sejumlah poin yakni, pertama, kaum Muslimin pada tahun itu tidak boleh melaksanakan umrah. Kedua, di tahun berikutnya, tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah dan para sahabat boleh melaksanakan umrah selama tiga hari. Kaum Quraisy akan menyingkir dari Mekkah dan kaum Muslimin tidak boleh bersenjata.

Poin ketiga adalah mengizinkan kaum Quraisy yang kembali ke Madinah mengikuti Nabi Muhammad SAW dan sebaliknya mengizinkan kaum Muslimin yang kembali ke Mekkah. Poin keempat adalah gencatan perang selama 10 tahun.

Nabi Muhammad menerima perjanjian Hudaibiyah itu sehingga umrah tak bisa terlaksana.

“Saat itu ada banyak sahabat yang marah, kecewa, dan mulai goyah dengan kebijakan Nabi,” ungkap Ustaz Mahfud.

Abu Bakar Ash-Shiddiq lalu menyampaikan firman Allah surat Al-Baqarah ayat 216 untuk menyenangkan hati kaum Muslimin.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” terjemahan surat Al-Baqarah ayar 216.

Mahfud menyebut perjanjian ini merupakan awal kemenangan untuk umat Islam.

“Sekilas perjanjian ini sangat merugikan Nabi dan kaum Muslimin. Namun justru dengan perjanjian Hudaibiyah ini kaum Muslimin mendapatkan kemenangan telak. Dan kemudian hari kemenangan benar benar terjadi sebagaimana janji Allah SWT dalam surat Al Fath,” tutur Ustaz Mahfud.

Seperti peristiwa Hudaibiyah yang membuat Rasulullah batal ke Mekkah melaksanakan ibadah umrah, pembatalan ibadah haji 2020 menurut Mahfud juga sebaiknya dimaknai dengan hati yang ikhlas.

Mahfud menyarankan setiap jemaah yang batal berangkat dapat berbaik sangka dan melihat sisi positif dari pembatalan keberangkatan ibadah haji ini. Misalnya, baik untuk kesehatan dan keselamatan dari serangan virus corona yang mematikan.

“Nasihat untuk jemaah yang batal haji tahun ini. Menyadur ayat Alquran, bisa jadi batalnya haji tahun ini tidak menyenangkan buat jemaah, tetapi ini adalah yang terbaik menurut Allah SWT. Selalu lah berprasangka baik kepada Allah SWT,” kata Ustaz Mahfud. [San]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.