Kisah Rasis di Zaman Nabi, Sungguh Allah Sangat Membencinya

detikislami.com – Sikap rasis dengan membeda-bedakan warna kulit, rupanya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Allah SWT tentu tidak menyukai orang-orang yang suka berbuat hal itu karena semua makhluk-Nya pada hakikatnya sama.

Allah berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya lah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui” (Ar-Rum: 22).

Selain bahasa, Allah memang sengaja menciptakan umatnya dengan bentuk fisik berbeda-beda. Maka umat manusia harus menghargai hal itu, tidak boleh berbuat rasis, apalagi sudah tertuang menjadi sebuah dalil.

Dari ayat tersebut maksudnya, perbedaan warna kulit manusia merupakan tanda yang menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah SWT. Namun, hal itu harus ditelaah serta mencari rahasia yang dikandungnya.

Diriwayatkan pula dari Abi Nadhrah,”Orang yang mendengar khutbah Rasulullah di Hari Tasyriq kedua mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda, Wahai manusia ketahuilah bahwa Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu. Ketahuilah bahwa tidak ada kelebihan orang-orang Arab atas Ajam (non-Arab), dan tidak pula orang Ajam atas orang Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berwarna kulit merah atas orang yang berkulit hitam, dan tidak pula hitam atas merah, kecuali dengan ketakwaan.” (HR Ahmad).

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR Muslim).

Rumah adalah harta, kendaraan juga harta. Tetapi Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian itu, melainkan melihat kepada hati dan amal kalian. Ketika salah seorang sahabat memanggil Bilal dengan “Wah anak orang hitam!” Rasulullah pun marah.

Diriwayatkan dari Ma’rur ibn Suwaid, ia berkata, “Saya bertemu Abu Dzar di Rabdzah, ia mengenakan jubahnya, demikian pula budaknya. Aku tanyakan hal itu kepadanya. Maka jawabnya, “Saya telah menghina seorang laki-laki sampai mencela ibunya. Lalu Nabi bersabda kepadaku. Wahai Abu Dzar, kau telah menghina ibunya.

Jika demikian, berarti kau adalah orang yang masih menyimpan watak Jahiliah. Ketahuilah bahwa saudara kalian itu adalah pelayan dan budak kalian, Allah SWT menempatkan mereka di bawah tangan kalian. Maka barang siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya, hendaknya ia memberinya makan dengan apa yang biasa dimakannya, dan memberinya pakaian dengan apa yang biasa dipakainya. Jangan membebani mereka dengan sesuatu di luar kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.” (HR Muttafaq ‘Alaih).

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq datang untuk membeli Bilal dari tuannya, maka tuannya, Shafwan bin Umayyah berkata kepadanya, “Demi Allah, sekiranya kau bayar satu dirham pun, aku akan menjualnya!”

Maka Abu Bakar pun balik menjawab, “Demi Allah, sekiranya kau meminta dariku 100 ribu dirham pun, aku pasti akan membayarkannya kepadamu.”

Dan ketika Safwan menyerahkan Bilal, Abu Bakar langsung menggamit tangan Bilal di ketiaknya sebagai bukti persaudaraan Islam. Abu Bakar berseru, “Ini adalah saudaraku!”

Umar pun berseru, “Abu Bakar adalah tuan kami, dan tuan kami telah melepaskan Bilal!”

Dijelaskan dalam “Buku Pintar Sains Dalam Alquran” karya Dr Nadiah Thayyarah, para ilmuwan mengatakan bahwa di dalam kulit, tepatnya di bawah epidermis, terdapat sel-sel kulit yang bernama sel-sel araknoid. Itu menyerupai sarang laba-laba dan pada sisi-sisinya membentang selaput-selaput tipis.

Jumlah sel-sel ini di setiap inchi mencapai 60.000 sel. Walau ada perbedaan warna kulit, sesungguhnya tak ada perbedaan dalam jumlah sel antara yang berkulit putih dengan yang berkulit hitam. Karena jumlah sel-sel dalam tubuh manusia berkulit putih dan berwarna bersifat konstan.

Sementara itu, perbedaan warna di antara kulit itu timbul akibat ketebalan bahan-bahan pewarnanya. Bahan pewarna inilah yang disebut dengan melanin. Kadar bahan pewarnanya ini ditentukan oleh faktor genetik pada inti sel.

Lalu apa hubungan antara warna dengan permukaan kulit? Salah satu faktornya adalah kulit menyerap cahaya ultraviolet yang berbahaya, seperti yang dialami oleh orang Indonesia. Karena disebutkan bahwa cahaya matahari di Garis Khatulistiwa bentuknya vertikal. Artinya, manusia akan menyerap sinar ultraviolet lebih nyaman, sehingga kulit orang Indonesia cenderung memiliki warna yang gelap. Dari penjabaran dalam ayat Alquran, setiap manusia harus saling menghargai. Tak peduli apa warna kulitnya, bagaimana kondisi fisiknya, karena manusia diciptakan berbeda oleh Allah.

 

sumber : okezonemuslim.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.