Menlu Retno: Setiap Helaan Napas Politik Luar Negeri Indonesia Ada Palestina

detikislami.com – Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menyatakan dukungan Indonesia terhadap perjuangan masyarakat Palestina dalam menghadapi upaya pendudukan Penjajah Israel tidak akan pernah berhenti. Menurut dia, Indonesia memiliki alasan kuat dalam memberikan dukungan tersebut, yaitu sesuai dengan amanat UUD 1945.

Dalam alinea pertama UUD 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, sehingga segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. “Kita selalu dekat di hati, di setiap helaan napas politik luar negeri Indonesia, isu Palestina, is always there,” kata Retno seperti dilansir dari Antara, Minggu (26/7/2020).

Dalam mendukung kemerdekaan tersebut, ia menambahkan, diperlukan dukungan yang luas dari masyarakat internasional. Sebab, saat ini Palestina tengah dihadapkan pada dua tantangan yang berat.

Pertama, tawaran Amerika Serikat melalui Kesepakatan Abad Ini.

Kedua, rencana Penjajah Israel untuk menganeksasi wilayah Tepi Barat pada 1 Juli 2020.

Indonesia, imbuh Retno, mengecam kedua langkah tersebut karena bertentangan dengan hukum internasional. Selain itu, langkah tersebut juga semakin menjauhkan upaya perdamaian yang berdasarkan ‘solusi dua negara’ atau two-state solution.

Rupayanya, upaya penggalangan dukungan yang dilakukan Indonesia pun disambut baik. Sejumlah negara seperti Afrika Selatan, Brunei Darussalam, Malaysia, Tiongkok, Jepang, Rusia, Tunisia, Vietnam, Mesir, Yordania, Irlandia, Prancis, serta Sekretaris Jenderal PBB dan Sekretaris Jenderal OKI, mendukung langkah Indonesia dalam mencegah dan menolak aneksasi.

Hingga tanggal yang ditetapkan, 1 Juli 2020, Penjajah Israel urung menjalankan rencana pencaplokan yang menargetkan 30 persen wilayah Tepi Barat.  Ini sesuai dengan perjanjian damai yang diusulkan Presiden AS Donald Trump dalam Kesepakatan Abad Ini.

Sejumlah hal yang melatarbelakangi penundaan adalah sikap AS yang terkesan ‘lepas tangan’ terhadap rencana aneksasi serta munculnya pandemi Covid-19 yang memukul dunia, tidak terkecuali Penjajah Israel. “Saya yakin penundaan ini terjadi karena adanya pressure internasional terhadap Penjajah Israel. Oleh karena itu, dunia harus bersatu untuk mewujudkan konsep two-state solution,” kata Retno.

Kendati rencana aneksasi itu gagal, ia mengatakan, secara de facto Palestina telah terjajah. Hal itu terlihat dari dibangunnya pemukiman-pemukiman Penjajah Israel di wilayah Tepi Barat.

Oleh karena itu, Retno menambahkan, tidak ada cara lain agar aneksasi yang telah direncanakan Penjajah Israel tak hanya ditunda, tetapi dibatalkan. “Opsinya hanya satu, yaitu terus menunjukkan kesatuan untuk menunjukkan penolakan secara kolektif,” ujarnya. “Yang diperlukan saat ini adalah kemauan politis masyarakat internasional untuk menjalankan semua resolusi PBB dan parameter internasional secara konsisten.

Ini yang akan Indonesia terus lakukan ke depan bersama masyarakat internasional,” imbuh dia. [Al]

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.