Mi Tarik Yang Unik Dan Menggoda Lidah Wong Solo

detikislami.com – Solo – Brand mi Solo ataupun mi Boyolali kondang dan digemari warga luar Solo di pelbagai wilayah Indonesia. Di Solo sendiri, ada mi tarik yang disajikan dengan berbagai variasi dan tetap mengedepankan aroma dari negeri asalnya.

Abdullah, 29, pemilik warung Mie Tarik Mas Doel, ditemui detikislami.com kala mengambil setangkup tangan adonan dari dalam almari es. Adonan tepung terigu itu masih terbungkus plastik bening

Dia lalu memijat-mijat adonan yang diletakkan di batu marmer dengan lebar serentangan dua tangan, melumurinya dengan minyak sayur, mengulur-ulurnya, membagi adonan menjadi tiga bagian, lalu menaruhnya di atas marmer abu-abu lagi. Sembari mengistirahatkan adonan, dia mempersiapkan bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk membuat mi tarik jadi hidangan. Tak berapa lama, dia kembali menghampiri adonannya.

Dia mengulur dan menarik adonan tepung terigu tersebut jadi serentangan tangannya. Kadang kala, dia taruh pelan adonan di marmer yang sudah ditaburi tepung terigu terigu. Abdullah menariknya kembali, lalu melipat. Begitu seterusnya dia lakukan hingga adonan tersebut berubah menjadi mi lonjong dan panjang.

Atraksi seperti itu akan selalu dia ulang bila ada pembeli yang memesan mi tarik. Namanya juga mi tarik, jadi pembuatannya pun juga harus ditarik.

Selain membuat mi tarik dengan bentuk standar, dia juga mahir memuat mi tarik pipih seperti kwetiaw. “Kalau mi nya sudah jadi dan tinggal masak, rasanya kurang kenyal. Kelebihan mi tarik kan lebih kenyal ketimbang mi yang dibuat dari pabrik. Bahkan bisa lebih kenyal dari pada pasta,” kata Abdullah saat ditemui detikislami.com di warungnya, yang sekarang berada di Belakang HTC (D’jujugan) Dusun 1, Madegondo, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah di pengujung Agustus 2019.

Lima Rasa
Dia menawarkan mi tarik dalam lima variasi rasa. Mi tarik kambing daun bawang dan mi curry ayam yang bisa dimasak goreng atau nyemek, serta mi telur tomat dengan kuah. Mi tarik daun bawang yang disajikan Abdullah tergolong sangat gurih. Meski memakai daging kambing, namun daging dan mi itu tidak berbau prengus. Dagingnya empuk, bumbu-bumbunya juga sangat terasa.

Aroma irisan daun bawang juga menyeruak harum. Padahal, saat  memasak, dia tidak memakai bawang merah dan bawang putih. “Saya pakai bumbu impor yang saya beli dari Jakarta. Saya juga tidak tahu bumbunya itu terdiri atas bahan apa saja, karena sudah berbentuk bubuk,” ujar Abdullah yang selama lebih dari setahun belajar membuat mi tarik dari seorang keturunan Tionghoa muslim di Jakarta Pusat.

Mi tarik milik Mas Doel ini ternyata sudah memiliki konsumen setia dari luar negeri terutama Brunei Darussalam. Hal ini diketahuinya ketika ada konsumen yang ingin minum teh tarik dia hanya ingin teh tarik yang di mi tarik mas Doel karena lengkap dengan mi tarik juga.

Dia pun menjamin bahwa mi dan bahan lain yang dia pakai untuk sajian mi tarik adalah halal.[al]

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.