Pemenuhan Hak Anak dalam Islam vs Sekularisme

detikislami.com – Anak adalah buah hati yang hadir untuk memenuhi harapan sebuah keluarga. Ia pun menjadi tumpuan harapan bagi bangkitnya peradaban gemilang. Oleh sebab itu, menjadi bangsa yang besar, adalah dengan cara memberi perhatian yang serius terhadap anak. Melindungi anak sehingga mereka mampu tumbuh dan berkembang dengan baik.

Gagasan diadakannya Hari Anak Nasional adalah dari mantan Presiden Republik Indonesia ke-2, yaitu Bapak Soeharto. Beliau melihat bahwa anak-anak sebagai aset penting, untuk kemajuan bangsa. Oleh sebab itu mereka harus dilindungi. Maka berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No 44 tahun 1984, ditetapkanlah setiap tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN).

HAN juga dijadikan sebagai pengingat bagi rakyat Indonesia untuk menggencarkan gerakan Internasional World Fit for Children atau dunia yang layak bagi anak. Sebuah komitmen Indonesia di tingkat internasional, dengan merealisasikan Kota Layak Anak (KLA) di sejumlah kota di Indonesia. Tujuan akhir dari gerakan ini tentu saja mewujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA).

Kegiatan Hari Anak Nasional pun dilaksanakan dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Ternyata peringatan Hari Anak Nasional memiliki tujuan juga. Tidak dikhususkan untuk orang dewasa, namun juga meningkatkan kesadaran pada si anak akan hak, kewajiban, dan tanggungjawabnya kepada orangtua, masyarakat, lingkungan, serta kepada bangsa dan negara.

Tema besar HAN 2019 adalah “Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak”. Indonesia sebagai bagian dari anggota PBB telah ber komitmen di tingkat internasional yang ditandai dengan diratifikasinya Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990.

Prinsip yang digunakan dalam pembangunan anak Indonesia, mengacu pada KHA yaitu: Non Diskriminasi; Kepentingan Terbaik bagi Anak; Hak Hidup, Kelangsungan Hidup, dan Perkembangan; dan Menghargai Pandangan Anak.(Jogloabang, 22/7/2019)

Dengan adanya kebijakan KLA maka diharapkan setiap wilayah kabupaten/kota hingga ke tingkat kecamatan dan desa/kelurahan dapat mengembangkan sistem pembangunan yang berbasis hak anak sebagai implementasi dari KHA di era otonomi daerah.

Persoalan anak Indonesia tidak bisa dianggap sepele, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selama tahun 2018 mencatat sebanyak 4.885 kasus. Bahkan tren pengaduan kasus anak ke KPAI meningkat sejak tahun 2015. (Antaranews, 8/1/2019).

Kasus persolan anak, di antaranya kasus kekerasan seksual, pornografi, kesehatan, dan penyalahgunaan narkoba. Kasus tersebut terjadi di berbagai tempat, baik tempat umum bahkan tempat khusus yang seharusnya memberi perlindungan bagi anak. Baanyaknya persoalan anak menunjukkan negeri ini belum memberi jaminan perlindungan bagi anak. Padahal anak adalah aset bangsa.

Sistem sekuler yang diterapkan saat ini bertanggungjawab atas berbagai kasus anak. Sekuler berarti memisahkan agama dari kehidupan dan pemisahan agama dari negara. Agama sebagai pondasi seseorang menjadi beradab justru diabaikan hingga anak kerap menjadi korban dalam sistem ini.

Sistem demokrasi kapitalis memberi kebebasan kepemilikan individu hingga tercipta jurang kemiskinan. Oleh karena itu masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik pangan dan pendidikan. Keluarga yang jauh dari nilai agama kerap putus asa akibatnya kembali anak yang menjadi korban.

Liberalisasi media dan gaya hidup menjadi penyebab tingginya kasus keekerasan seksual pada anak. Kapitalis menganggap liberalisasi media dengan konten pornografi juga narkoba sebgai bisnis yang menjanjikan. Negara tampak kewalahan untuk memberantasnya.

Anak adalah titipan Allah yang harus dijaga dan diasuh dengan sebaik-baik pengasuhan. Hak anak yang tercantum dalam Konvensi Hak Anak adalah ilusi ideologi sekuler kapitalis untuk memberi perlindungan bagi anak. Ideologi sekuler kapitalis bahkan telah menghancurkan masa depan anak.

Negara kapitalis bahkan tidak segan untuk mengeksploitasi anak guna meraup keuntungan. Anak pun kerap menjadi korban kebrutalan serangan mereka atas nama demokratisasi. Alih-alih mengatasi persoalan anak, KHA dan KLA sesungguhnya dapat membahayakan pemahaman Islam di tengah masyarakat.

Demokrasi memberi kebebasan individu (termasuk anak) untuk melakukan apapun yang dikehendaki nya. Padahal masa kanak kanak adalah masa pertumbuhan fisik dan akal, yang seharusnya dipenuhi kecukupan gizi dan ilmu agama untuk menjalani kehidupan. Konsep KHA dan KLA memberi celah bagi ideologi sekuler agar anak melawan orangtua yang memberi bekal agama dengan alasan menlanggar hak anak.

Sungguh Islam sebagai agama yang komprehensif telah memberi pengaturan yang baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara. Islam juga memberi jaminan perlindungan bagi anak. Karena anak adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt.

Islam mewajibkan bagi setiap keluarga untuk memberi bekal agama dan pengasuhan yang baik bagi anak. Sehingga terbentuk kepribadian Islam yang tangguh pada anak dan ketika baligh siap menjalani syariat dengan adab yang mulia. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).

Negara memberi jaminan pemenuhan kebutuhan bagi seluruh rakyatnya termasuk pangan dan pendidikan. Oleh karena itu lahirnya generasi pemimpin yang kuat dan cerdas dan dicintai Allah adalah keniscayaan. Rasulullah Saw, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Islam juga bertanggungjawab memberi edukasi yang baik di tengah masyarakat. Halal haram menjadi batasan. Media dengan konten asusila juga narkoba adalah bisnis haram yang tidak diperbolehkan. Dan negara harus tegas mengadili seluruh pelanggaran termasuk pada kekerasan terhadap anak.

Hak perlindungan anak hanya dapat terealisasi secara nyata jika negara membuang ideologi sekuler kapitalis yang merusak dan menerapkan hukum Allah swt dalam seluruh aspek kehidupan.

Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu.” (Al-Ma’idah: 100).

 

sumber : suaraislam.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.