Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan Tokoh: “RAHMAH EL YUNUSSIYAH”

Oleh : Aruny Amalia Syahida

(Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

 

Karakter anak bangsa Indonesia di masa sekarang memang semakin memprihatinkan. Banyak ditemukan kasus kriminalitas yang dilakukan anak anak dibawah umur. Menurut laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) per 20 Agustus 2020 terdapat 123 kasus anak sebagai pelaku dan berhadapan hukum (ABH), dimana kriminalitas terbanyak adalah kekerasan fisik sebanyak 30 kasus dan kekerasan seksual 28 kasus. Selain itu, anak sebagai pelaku kecelakaan lalu lintas dan pencurian menyusul dengan masing-masing 13 dan 12 kasus. Dan masih banyak realita disekitar kita yang menunjukkan tingkat kemerosotan karakter bangsa.

Melihat fenomena yang terjadi, tentunya pendidikan karakter sangat sekali diperlukan, karena kurangnya pendidikan karakter akan menimbulkan krisis moral yang berakibat pada perilaku negatif di masyarakat. Seperti diketahui bahwa proses globalisasisecara terus-menerus akan berdampak pada perubahan karakter masyarakat Indonesia.

Pendidikan karakter lewat keteladanan dari para pahlawan atau tokoh inspiratif bisa menjadi salah satu pilihan metode dalam membelajari anak tentang karakter. Dan salah satu upayanya yakni melalui literasi tentang  sejarah dan keteladanan para tokoh pejuang bangsa yang diharapkan mampu memberi inspirasi, keteladanan, dan tentunya sebagai upaya pendidikan karakter bagi para pembacanya.

Implementasi nilai karakter dalam literasi sejarah dapat dieksplorasi melalui keteladaan para tokoh-tokoh sejarah bangsa yang telah mengabdi dan berjasa bagi bangsa dan negara. Keteladanan para tokoh akan memberi keteladanan yang bersifat tekstual dan kontekstual terhadap para pembaca khususnya anak anak penerus bangsa. Keteladanan berasal dari kata teladan yaitu hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh. Keteladanan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan pribadi seseorang. Secara sederhana keteladanan memerlukan penilaian bahwa perilaku tersebut baik sebelum memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Keteladanan dapat diartikan wujud dari usaha yang dilakukan seseorang dengan sadar.

Rahmah El Yunussiyah, seorang pahlawan atau tokoh pejuang wanita yang masih asing dan bisa dibilang masih kalah tenar dibandingkan dengan pejuang wanita lainnya. bahkan tidak ada hari peringatan khusus untuk mengenang jasanya seperti RA Kartini yang setiap tanggal 21 April selalu dirayakan dan diperingati oleh bangsa Indonesia, padahal perjuangan dan jasa Rahmah El Yunussiyah untuk kaum perempuan dan bangsa Indonesia sangatlah besar dan tidak kalah dengan pahlawan wanita lainnya.

Tokoh pejuang wanita Indonesia yang kita kenal dari berbagai daerah dan penjuru tanah air sangat beragam cara berjuangnya. RA Kartini berjasa atas pemikiran pemikirannya terhadap hak dan emansipasi wanita. Dewi Sartika berjuang dengan mendirikan sekolah tanpa mengangkat senjata, Keumalahayati dan Cut Nyak Dien berjuang dengan mengangkat senjata tanpa mendirikan sekolah, tapi sosok Rahmah El Yunussiyah berjuang dengan mendirikan sekolah sekaligus mengangkat senjata untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.

Rahmah El Yunussiyah adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktifis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Rahmah adalah sosok perempuan, muslimah sejati yang sungguh layak disebut Pejuang perempuan yang mempelopori pendidikan perempuan di Indonesia.

Rahmah lahir di bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatra Barat, 29 Desember 1900. Rahmah adalah bungsu dari lima bersaudara, Ibunya Bernama Rafi’ah, ayahnya bernama Muhammad Yunus bin Imanuddin bin Hafazhah. Ayah Rahmah juga popular dengan nama Muhammad Yunus al-Khalidy. yang terkenal sebagai ulama besar dan seorang qadhi/ hakim yang ahli ilmu falak dan hisab di Pandai Sikat.

Awal pendidikan Rahmah telah diperoleh dari sang ayah dan dilanjutkan oleh kedua kakaknya. Meskipun hanya sebentar karena ayahnya meninggal pada saat ia masih kanak-kanak, Rahmah kecil juga telah mendapat pendidikan formal sekolah dasar selama tiga tahun di kota kelahirannya, Padang Panjang.

Tidak hanya belajar dengan kakaknya, Rahmah juga berguru dengan para ulama di Minangkabau seperti Haji Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim (pemimpin sekolah Thawalib Padang-Panjang), Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Syaikh Abdul Latif Rasyidi, dan Syaikh Daud Rasyidi. Bila diwaktu paginya belajar di madrasah maka pada setiap sorenya, Rahmah rutin mengaji pada Haji Abdul Karim Amrullah yang merupakan ayah dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka di surau Jembatan Besi, Padang Panjang, di sini ia memperdalam pengajian mengenai masalah agama dan wanita, disamping itu juga ia mempelajari bahasa Arab, fiqih dan ushul fiqih. Selama proses belajar inilah telah banyak mempengaruhi pemikiran Rahmah untuk melakukan pembaharuan pendidikan.

Pada usia 16 tahun Rahmah menikah dengan seorang mubalig dan ulama muda berpikiran maju bernama H. Baharuddin Lathif dari Sumpur Padang Panjang. Namun perkawinannya hanya berlangsung selama enam tahun. Pada tahun 1922 atas kehendak kedua belah pihak bersepakat bercerai dan memutuskan untuk menganggap sebagai dua bersaudara. Dari pernikahan ini Rahmah tidak memperoleh keturunan. Dan sejak perceraian tersebut, Rahmah tidak bersuami lagi. Sehingga disepanjang hidupnya ia curahkan untuk mengabdikan diri pada madrasah yang dibangunnya. memberi manfaat besar bagi agama, kehidupan masyarakat, khususnya kaum perempuan dan negara.

Pada saat berumur 23 tahun, Rahmah mempunyai semangat dan keinginan yang besar untuk memajukan keilmuan kaum perempuan. dan mengeluarkan kaumnya dari kebodohan kehidupan, utamanya dalam rumah tangga. Karena rumah tangga adalah bagian dari tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara. Tentulah ia tidak mau, kaumnya yang mempunyai peran penting dalam tiang negara dan pendidikan anak-anaknya tidak memperoleh hak pendidikan. Dan pada akhirnya pada tanggal 01 November 1923, Rahmah dengan dukungan dari kakaknya, Zaenuddin Labay dan teman-teman perempuannya di PMDS (Persatuan Murid-murid Diniyah School) memutuskan untuk mendirikan sekolah khusus Perempuan yang dinamai Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah li al-Banat yang bertempat di Masjid Pasar Usang.

Pada 1926, Rahmah juga membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan  sekolah menyesal.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah menghindari aktifitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah. Ketika Belanda menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak, mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik ummat, dibiayai oleh ummat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Menurutnya, subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.

Setelah tujuh tahun mendirikan Diniyah School Putri, sekitar tahun 1931- 1935, ia berfikir perlu untuk kembali menuntut ilmu kesehatan dengan mengikuti kursus ilmu kebidanan di RSU Kayu Tanam dan mendapat izin praktek/ ijazah bidan dari dokter. Dalam bidang kebidanan ini ia juga mendapat bimbingan yang mula-mula diberikan dari kakak ibunya Kudi Urai, seorang bidan yang menolong kelahiran dirinya dan Sutan Syahrir (Mantan Perdana Menteri RI).

Selain Ilmu kebidanan, Rahmah juga semangat belajar ilmu pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dari enam orang dokter yang juga gurunya dalam kebidanan, yaitu dokter Sofyan Rasyad dan dokter Tazar di rumah sakit umum Kayu Tanam (mendapat izin praktek dan ijazah dengan kedua dokter ini), dokter A. Saleh di RSU Bukittinggi, dokter Arifin dari Payakumbuh, dan dokter Rasjidin dan dokter A. Sani di Padang Panjang.

Semasa perang asia-pasifik, gedung sekolah Diniyah Putri dua kali dijadikan rumah sakit darurat untuk menampung korban kecelakaan kereta api. Atas peristiwa ini Diniyah School Putri mendapat Piagam Penghargaan dari Pemerintah Jepang

Perguruan Diniyyah Putri yang didirikan oleh Rahmah El yunussiyah menginspirasi Universitas Al-Azhar  Mesir membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan. Rahmah adalah Wanita pertama didunia yang mendapat gelar kehormatan “Syekhah” dari Universitas Al Azhar, sewaktu Rahmah berkunjung ke Mesir pada 1957, setelah dua tahun sebelumnya Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyah Putri.

Rahmah memperoleh pendidikan atas inisiatifnya sendiri, pada saat masyarakat memandang kurang perlunya pendidikan bagi perempuan. Rahmah melihat bahwa perempuan tertinggal dari laki-laki, berada dalam kebodohan dan kepasrahan pada keadaan sehingga masyarakat pada umumnya termasuk perempuan sendiri mengganggap diri mereka makhluk yang lemah dan terbatas. Ia menginginkan setiap wanita menjadi ibu yang baik dalam rumah tangga dan masyarakat. Hal itu menurutnya hanya dapat dicapai melalui pendidikan, Rahmah ingin perempuan tetap pada fitrahnya dan anak didiknya menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Ia tetap memasukkan pendidikan rumah tangga seperti menjahit, memasak dan keterampilan rumah tangga lainnya ke dalam kurikulum sekolahnya

Keteladanan Karakter Rahmah El Yunussiyah

Rahmah El-Yunusiah merupakan sosok yang cerdas, tegas, visioner dan pendobrak tradisi tumpul. Rahmah telah menyadarkan peranan perempuan yang cukup central dalam tatanan masyarakat. Perempuan sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan awal sikap mental dan kepribadian generasi baru di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Rahmah El-Yunussiah juga mempunyai karakter pantang menyerah dalam memperjuangkan pendidikan kaum perempuan. Untuk mewujudkan cita-citanya dalam bidang pendidikan banyak sekali tantangan yang dihadapi Rahmah pada waktu sekolah itu didirikan. Masyarakat yang masih berpegang teguh dengan tradisi lama selalu melancarkan kritik dan cemoohan terhadapnya. tetapi Rahmah pantang menyerah dan tak gentar sedikitpun Ia berjuang berdasarkan ide-ide yang ia yakini yang bersumber dari ajaran Islam yang berlandaskan Al Quran dan As-Sunnah.

Rahmah juga merupakan sosok perempuan yang punya motivasi kuat untuk menuntut ilmu atau gemar berilmu. Dalam beragama, semangat Rahmah tak hanya berhenti pada tataran ritual saja, melainkan mewujud dalam aksi nyata. Semangat Rahmah mengangkat harkat kaum muslimah terilhami oleh spirit ajaran Islam yang secara tegas menyebutkan: “Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap tiap orang Islam laki-laki dan perempuan”.

Karakter Rahmah El Yunussiyah lainnya yaitu Pemberani, Busana khas yang dikenakannya yaitu baju kurung Panjang dan jilbab syar’i tidak mengurangi jiwa pemberaninya. Yang dibuktikan dengan fakta sejarah bahwa Rahmah juga terjun dalam berbagai kegiatan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Rahmah terlibat dalam Pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Sumatra Barat. Anggotanya terdiri dari pemuda-pemuda yang telah terlatih dalam lascar Gyu Gun Ko En Kai (laskar rakyat) yang sebelumnya dibentuk oleh Jepang. Dapur asrama dan harta miliknya direlakan untuk pembinaan TKR yang rata-rata masih muda usia.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya dan menjalar keseluruh pelosok negeri.

Selain berjiwa pendidik, Rahmah juga memiliki jiwa kepemimpinan. Rahmah sendiri ditunjuk menjadi Ketua Haha no Kai (organisasi perempuan) di Padang Panjang, untuk membantu pemuda-pemuda indonesia yang terhimpun dalam Gyu Gun (laskar rakyat) agar mereka kelak dapat dimanfaatkan dalam perang revolusi perjuangan bangsa. Ikut mengayomi laskar-laskar barisan Islam yang dibentuk oleh sejumlah organisasi Islam pada waktu itu seperti Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbul Wathon. Oleh karena itulah para pemuda pada masa itu menjuluki Rahmah El-Yunusiah sebagai “Ibu Kandung Perjuangan”.

Di zaman penjajahan Belanda, ia pernah mengetuai rapat umum kaum Ibu di padang Panjang dan menjadi Pengurus Serikat kaum Ibu Sumatera (SKIS). Rahmah membentuk dan mengetuai Perserikatan Guru-guru Agama Putri Islam (PGAPI) pada 1933. Ia menjadi wakil kaum ibu sumatera tengah dalam konggres perempuan Indonesia II di Batavia. dan masih banyak fakta sejarah lainnya yang mengungkapkan jiwa kepemimpinan seorang Rahmah El Yunussiyah.

Rahmah juga tercatat sebagai salah seorang pendiri partai Masyumi di Minangkabau. Rahmah cukup aktif dalam mengembangkan Masyumi. Sampai pada pemilu tahun 1955, Rahmah dicalonkan oleh partainya dan terpilih menjadi anggota Parlemen (DPR) mewakili Sumatra Tengah (1955-1958).

Pada 1964, Rahmah menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri. Dan pada hari Rabu tanggal 9 Zulhijjah 1388 Hijriyah atau tanggal 26 Februari 1969 pada pukul 19.30 di rumahnya sendiri di Padang Panjang, Rahmah El-Yunusiyah wafat pada usia 68 tahun 2 bulan.

Jenazah Rahmah El Yunussiyah dikuburkan di perkuburan keluarga disamping rumahnya yang juga disamping perguruan yang ia dirikan dipinggir jalan Lubuk Mata Kucing. Meskipun jasadnya telah mati terkubur namun jasa peninggalan perjuangannya bagi perempuan masih bisa terus dikenang. Pengorbanan dalam hidupnya tidaklah sia-sia, perjuangan dan dedikasinya dalam bidang pendidikan banyak memberi manfaat besar bagi agama, kehidupan masyarakat dan negara khususnya perempuan.

Hadirnya sosok Rahmah adalah refleksi ideal seorang muslimah untuk setiap zaman. Ia adalah pejuang yang memiliki cita-cita tinggi, progresif dan visioner. Ia membuktikan bahwa perempuan sangat mampu memberikan peran dan kontribusi terhadap peradaban.

 

DAFTAR PUSTAKA

Erianjoni, Pergeseran Citra Wanita Minangkabau : Dari Konsepsi Ideal Tradisional ke Realitas. Jurnal Ilmiah Kajian Gender.

Hamruni, Pendidikan Perempuan Dalam Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah, Kependidikan Islam, Vol 2, No 1, Februari-juli 2004.

Nata, Abuddin. 2005. Tokoh-tokoh Pembaruan dan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rasyad, Aminuddin. 1991. Hj. Rahmah El Yunusiyah dan Zainuddin Labay El Yunusy, Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam. Jakarta

Wannofri Samry dan Rahilah Omar. Gagasan dan Aktiviti Wartawan Wanita Minangkabau Pada Masa Kolonial Belanda, Jebat¸Vol 39 (2), Desember 2012.

Rahmah El Yunussiyah Pahlawan Wanita Berkerudung Syar’i yang Terlupakan
selengkapnya: https://www.dakwahpost.com/2018/01/rahmah-el-Yunussiyah-    pahlawan-wanita-berkerudung-syari-yang-terlupakan.html

https://www.kpai.go.id/publikasi/kpai-320-anak-terpapar-kriminalitas-pencegahan-tugas-orangtua-maksimalkan-peran-rumah-aman

 

 

Redaksi menerima tulisan atau artikel yang dapat dikirimkan ke email detikislamidotcom@gmail.com, isi artikel yang terbit merupakan tanggungjawab penulis sepenuhnya, redaksi hanya mengedit seperlunya tanpa menngurangi atau merubah materi artikel

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.