Sadar atau Tidak, Membekukan Front Pembela Islam Sebenarnya Sia-sia

detikislami.com – Jujur, saya sebenarnya tak menyangka Front Pembela Islam akan diperlakukan demikian. Pemerintah sampai membuat SKB 6 Kementrian/Lembaga demi membekukan Ormas pimpinan Habib Rizieq Syihab itu.

Perlakukan Polisi terhadap Habib Rizieq saja bagi saya sangat disesalkan, karena pelanggaran yang disangkakan terkesan dipaksakan. Bagaimana mungkin HRS disebut melanggar pasal 160 KUHP tentang penghasutan padahal tidak ada orang yang melanggar hukum karena hasutannya.

Disebut melanggar protokol kesehatan, padahal sudah membayar denda 50 Juta ke Pemprov DKI Jakarta. Di sisi lain, kerumunan Pilkada dibiarkan terjadi di berbagai kota. Saat terjadi penularan Covid-19 yang begitu tinggi, tak ada yang ditetapkan tersangka.

Kembali soal SKB 6 Kementrian/Lembaga Tentang Larangan Kegiatan, Penggunaan Simbol dan Atribut Serta Penghentian Kegiatan Front Pembela Islam. Dalam melarang kegiatan Ormas, sebenarnya tidak cukup dengan asas contrarius actus (Pejabat yang membuat keputusan berwenang mencabut, mengganti, mengubah atau membatalkan).

Sebab, berorganisasi merupakan hak setiap orang yang tidak dapat dikurangi kecuali dengan keadaan terpaksa. Maka, idealnya pelarangan kegiatan suatu ormas melalui seleksi ketat. Yang paling memungkinkan adalah melalui proses peradilan.

Meniadakan proses peradilan maka ini membuat kekuasaan eksekutif lebih dominan. Tidak ada check and balances yang terjadi. Padahal, lembaga eksekutif tak selalunya berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Alasan pemerintah melakukan pembekuan pun masih dipertayakan. Sebab, FPI oleh pemerintah dianggap berkegiatan yang mengganggu ketentraman, ketertiban umum dan bertentangan dengan hukum. Semua alasan ini tak dijabarkan oleh Pemerintah. Mana tindakan FPI secara resmi yang bertentangan dengan hukum?

Ditambah lagi dengan memframing bahwa HRS pro terhadap ISIS dengan potongan video. Saya berpikir, kok sekelas pemerintah begini dalam melakukan penegakan hukum? Menyebarkan potongan video tanpa melihat konteks. Saya kira, praktik semacam ini hanya ada di medsos.

Terkait keberadaan FPI, jauh-jauh hari Habib Rizieq sudah berpesan hal yang cukup menggugah. Ia mengatakan bahwa FPI bukan tujuan melainkan hanya kendaraan dari sebuah perjuangan. Ada atau tidak FPI, amar ma’ruf harus berjalan.

Front Pembela Islam hanya luarnya saja, tapi dalam diri seorang muslim perlu ditanamkan amar-ma’ruf nahi mungkar. Terlepas dari pro dan kotra, selama ini FPI sudah melakukan hal yang sangat luar biasa dalam hal amar ma’ruf nahi mungkar. Di mana tidak semua ormas mampu demikian.

Dalam konteks kemanusiaan, peran FPI sangat besar. Ketika terjadi tsunami di Aceh, Munarman mengatakan bahwa FPI mengangkat 100 ribu lebih jenazah korban, padahal jumlah mereka yang turun hanya sekitar 1500.

Maka, jika membubarkan FPI supaya tidak ada yang melawan ketidak adilan jelas tindakan yang sia-sia. Sebab, perlawanan terhadap kemungkaran tak berhenti pada FPI, karena akan ada setiap umat Islam entah dari organisasi apa yang melawan ketidak adilan. Dan teriakan terhadap ketidak adilan dan kepedulian pada kemanusiaan oleh muslim sejati bukan untuk meraih jabatan.

Untuk menutup tulisan ini, ada satu ungkapan menarik yang sangat masyhur di kalangan umat Islam. Yaitu, mereka bisa memotong seluruh bunga di taman, tapi tidak bisa menghadang datangnya musim semi.

 

Penulis: Taufiq Ishaq

Sumber : kiblat.net

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.