Setiap Pemimpin Pasti Akan Dimintai Pertanggung Jawabannya

detikislami.com – Di dalam sistem kepemimpinan, tentu harus ada yang memimpin dan ada yang di pimpin, baik dalam jumlah kecil maupun dalam jumlah besar sekalipun. Segala sesuatu yang sudah ditentukan sesuai peraturan yang dibuat masing masing sistem kepemimpinan tersebut, jika dalam kepemimpinan islam, maka aturan yang berlaku didalamnya adalah Al Qur’an dan As Sunnah, namun jika kepemimpinan tersebut diluar islam, maka aturan aturan yang berlaku didalamnya sesuai dengan ajaran yang diyakininya masing – masing.

Jika dia seorang pemimpin dalam sebuah rumah tangga, maka kewajibannya adalah bijaksana dan adil terhadap keluarganya, namun jika dia adalah seorang  yang diamanahkan sebagai  pemimpin dalam sebuah kelompok(golongan), maka kewajibannya adalah berlaku adil dan bijaksana atas apa yang dipimpinya.

“Wahai orang – orang yang beriman, ta’atilah Allah, ta’atilah rasulnya, dan ulil Amri(pepimpin) diantaramu, jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Al qur’an dan Sunnah”.(Qs. Annisa : 59)

Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

“Setiap Kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya”.(HR. Bukhari Muslim)

Berikut sebuah kisah kepemimpinan dimasa sahabat yang sebetulnya sudah tidak asing lagi di kalangan kaum muslimin pada umumnya, namun kisah tersebut dapat mengingatkan kita, bahwa pentingnya seorang pemimpin untuk berlaku adil dan bijaksana dalam menentukan sikap demi kemaslahatan ummat, Agar tidak terjadinya sebuah ketidak adilan dan perpecahan yang berakibatkan saling meruginya satu dengan yang lain. sebab apapun bentuknya, apapun keputusannya, semua itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya kelak dihadapan Allah subahanahu wa ta’ala.

Baca Juga : Kepemimpinan Di Dalam Islam Mewujudkan Kesejahteraan

Ketika Umar bin Khattab diamanahkan menjadi seorang pemimpin(khalifah) dimasanya, Beliau pernah menghadapi cobaan yang cukup berat. Saat itu, umat Islam dilanda paceklik karena masuk dalam tahun abu.
Di tahun itu, semua bahan makanan sulit didapat. Hasil pertanian sebagian besar tidak dapat dikonsumsi, sehingga menyebabkan umat Islam menderita kelaparan. Suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab mengajak seorang sahabat bernama Aslam menjalankan kebiasaannya menyisir kota. Dia hendak memastikan tidak ada warganya yang tidur dalam keadaan lapar. Sampai pada satu tempat, Umar dan Aslam berhenti. Dia mendengar tangisan seorang anak perempuan yang cukup keras. Umar kemudian memutuskan untuk mendekati sumber suara itu, yang berasal dari sebuah tenda kumuh. Setelah dekat, Umar mendapati seorang wanita tua terduduk di depan perapian sambil mengaduk panci menggunakan sendok kayu. Umar kemudian menyapa ibu tua itu dengan mengucap salam. Si ibu tua itu menoleh kepada Umar dan membalas salam tersebut. Tetapi, si ibu kemudian melanjutkan kegiatannya.

“Siapakah yang menangis di dalam?” tanya Umar kepada ibu tua.
“Dia anakku,” jawab ibu tua itu.
“Mengapa dia menangis? Apakah dia sakit?” tanya Umar lagi.
“Tidak. Dia kelaparan,” jawab si ibu.
Umar dan Aslam kemudian tertegun. Setelah beberapa lama, keduanya merasa heran melihat si ibu tua tak juga selesai memasak. Untuk mengatasi rasa herannya, Umar kemudian bertanya,

“Apa yang kau masak itu? Kenapa tidak matang juga?
Si ibu kemudian menoleh, “Silakan, kau lihat sendiri.”
Umar dan Aslam kemudian menengok isi panci itu. Mereka seketika terkaget menjumpai isi panci yang tidak lain berupa air dan batu.
“Apakah kau memasak batu?” tanya Umar dengan sangat kaget. Si ibu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Untuk apa kau masak batu itu?” tanya Umar lagi.
“Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku yang sedang kelaparan.

Semua ini adalah dosa Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sejak pagi aku dan anakku belum makan sejak pagi. Makanya kusuruh anakku berpuasa dan berharap ada rezeki ketika berbuka. Tapi, hingga saat ini pun rezeki yang kuharap belum juga datang. Kumasak batu ini untuk membohongi anakku sampai dia tertidur,” kata ibu tua itu.
“Sungguh tak pantas jika Umar menjadi pemimpin. Dia telah menelantarkan
 kami,” sambung si ibu.

Mendengar perkataan itu, Aslam berniat menegur si ibu dengan mengingatkan bahwa yang ada di hadapannya adalah sang Khalifah.

Namun, Umar kemudian menahan Aslam, dan segera mengajaknya kembali ke Madinah sambil meneteskan air mata. Sesampai di Madinah, tanpa beristirahat, Umar langsung mengambil sekarung gandum. Dipikulnya karung gandum itu untuk diserahkan kepada sang ibu. Melihat Umar dalam kondisi letih, Aslam segera meminta agar gandum itu diangkatnya. “Sebaiknya aku saja yang membawa gandum itu, ya Amirul Mukminin,” kata dia.

Dengan nada keras, Umar menjawab, “Aslam, jangan kau jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau bisa menggantikanku mengangkat karung gandum ini, tetapi apakah kau mau memikul beban di pundakku ini kelak di Hari Pembalasan?”

Aslam pun tertegun mendengar jawaban itu. Dia tetap mendampingi Khalifah mengantarkan sekarung gandum itu kepada si ibu tua.

 Kisah tersebut sebetulnya lebih tepat diartikan, begitu perdulinya seorang Pemimpin terhadap umatnya , sampai sampai seorang khalifah/Amirul Mu’minin yang menjadi seorang pemimpin tertinggi didalam sistem kepimpinan islam, rela untuk turun kebawah, langsung melihat keadaan rakyatnya tanpa meminta untuk dikawal dan dijaga oleh seorang pengawal, bahkan beliau menolak dalam hal tersebut.

 Dari Abdullah bin ‘amru bin al ‘ash r.a , Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

 “sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya, ialah mereka yang adil dalam hukum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) kepada mereka”. (HR.Muslim)

Berlaku adil terhadap apa yang dipimpin tentulah bukan sesuatu hal yang mudah, perlu kejujuran dan keikhlasan didalamnya, agar apa yang dipimpin berjalan sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi, Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala Senantiasa memberikan kita seorang pemimpin yang selalu berlaku Adil dan bijaksana dalam menentukan keputusan demi kemaslahatan ummat, semata mata hanya mencari keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin, Wallahu A’lam. [al]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.