Uwais al-Qarni, Pemuda Yang Terkenal Di Langit Karena Berbakti Kepada Ibunya

detikislami.com – Kisah Uwais menunjukkan anjuran untuk meminta doa dan ampunan lewat perantara orang saleh.

Allah SWT telah memberikan posisi istimewa terhadap kedudukan orang tua. Betapa istimewanya posisi ayah dan ibu kita, sampai-sampai Allah SWT melarang seorang anak mengatakan “ah” kepada mereka. “Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”(QS al-Isra’ [17]: 23-24).

Kisah Uwais al-Qarni patut menjadi teladan bagi setiap pemuda Muslim dalam hal berbakti kepada ibundanya. Berbaktinya Uwais kepada orang tuanya menurunkan keridhaan Allah SWT. Sehingga, Allah memperkenalkan Uwais kepada setiap penghuni langit.

Uwais merupakan pemuda Yaman yang fakir dan yatim. Kesibukan Uwais mengurus ibundanya membuat dia tidak dikenal oleh penduduk sekitarnya.

Namun, penghuni langit tidak asing terhadapnya karena Allah SWT telah menurunkan banyak keberkahan. Nabi Muhammad SAW menyarankan untuk minta doa kepadanya.

“Suatu ketika, jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan dimintakan ampun. Dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi,” kata Ra sulullah SAW seraya memandang Umar dan Ali, seperti dikisahkan kitab al Minhaj Syarh Shahih Muslim.

Berkat titah Rasulullah, akhirnya Umar bergegas mencari pemuda yang dimaksud Rasulullah SAW, yakni Uwais Al-Qarni.

Dalam perjalanan, Umar bertemu dengan rombongan orang-orang Yaman. Umar langsung menahan rombongan tersebut dan bertanya-tanya tentang nama Uwais. “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin `Amir?” tanya Umar.

Setelah menahan rombongan dari Yaman, Umar mendekat dan menatap masing-masing wajah setiap rombongan. Ketika Umar sedang memperhatikan wajah dari setiap rombongan, Uwais balik bertanya, “Benar. Apa engkau mencari Uwais bin `Amir?”

Umar menjawab. “Iya, benar.”

Untuk memastikan bahwa dia itu adalah Uwais yang dimaksud Rasul, Umar bertanya, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?”

Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”

Uwais menjawab, “Iya.”

“Benar engkau punya seorang ibu?” tanya Umar.

“Iya,” jawab Uwais.

Umar dan Ali sengaja mencegat perjalanan Uwais karena Rasulullah pernah mengatakan bahwa suatu saat Uwais akan melakukan perjalanan ke Kufah bersama orang Yaman.

“Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, `Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin `Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn.

Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham.”

“Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya,” lanjut Umar masih menirukan perkataan Rasulullah SAW.

Selesai menyampaikan beberapa pertanyaan, Umar langsung meminta kepada Uwais saat itu juga, “Mintalah kepada Allah untuk mengampuniku.”

Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.

Rendah hati Usai meminta doa, Umar menanyakan tujuan Uwais. “Engkau hendak kemana wahai Uwais?”

Uwais menjawab, “Ke Kufah”.

Umar pun menawarkan bantuan. “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di Kufah supaya membantumu?”

Namun, Uwais menolak dengan halus tawaran Umar tersebut dan menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”

Sikap rendah hati Uwais itu juga tampak ketika seorang tokoh yang usai berhaji dan bertemu Umar mendatangi Uwais. Orang tersebut memohon agar Uwais mau mengangkatkan kedua tangannya meminta ampunan kepada Allah SWT untuknya.

“Mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Namun, permintaan itu tidak segera dikabulkan Uwais. Dengan rendah hati, Uwais malah meminta didoakan orang tersebut. “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik, (yaitu haji)? Mintalah ampunan pada Allah untukku.”

Mendengarkan perkataan Uwais, orang yang terhormat itu kembali bertanya kepada Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu Umar?” Uwais menjawab, “Iya benar.”

Akhirnya dengan segela kerendahan hati Uwais pun segera mengangkat kedua tangannya untuk memintakan ampunan kepada Allah bagi orang terhormat yang menemuinya di suatu tempat.

Menurut penuturan Imam Muslim, sejak saat itu, Uwais banyak mendapat kunjungan untuk meminta doa. Untuk menjaga kesucian hatinya, ia mengasingkan diri. Namun, ketika ajal menjemput Uwais, banyak orang tak dikenal di kalangan penduduk Yaman mengantar dan mengiringi jenazah Uwais.

Mereka terheran. Besar kemungkinan mereka adalah para malaikat yang turun kebumi. Dialah hamba yang tidak dikenal di bumi, tetapi sangat terkenal di langit.

“Berbaktinya Uwais kepada orang tuanya menurunkan keridhaan Allah SWT. Sehingga, Allah memperkenalkan Uwais kepada setiap penghuni langit.”

Keteladanan dan Pelajaran Berharga

Banyak pelajaran dan keteladanan yang bisa diambil dari kisah Uwais al-Qarni di atas.

Pertama, kisah Uwais menunjukkan mukjizat dari Rasulullah SAW.

Kedua, kelebihan dan keistimewaan tak harus ditunjukkan dengan congkak kepada penduduk bumi. Menurut Imam an-Nawawi, sosok Uwais adalah orang yang menyembunyikan keadaan dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia.

Ketiga, keistimewaan atau manaqib dari Uwais tampak dari perintah Nabi SAW kepada Umar untuk meminta doa dari Uwais agar Allah SWT memberikan ampunan.

Kempat, dianjurkan untuk meminta doa dan doa ampunan lewat perantara orang saleh.

Kelima, boleh orang yang lebih mulia kedudukannya meminta doa pada orang yang kedudukannya lebih rendah darinya. Di sini, Umar adalah seorang sahabat tentu lebih mulia, diperintahkan untuk meminta doa kepada Uwais seorang tabiin.

Keenam, Uwais adalah tabiin yang paling utama berdasarkan nash dalam riwayat lainnya. Umar bin Khatab menyebutkan bahwa Rasul bersabda, “Sesungguhnya tabiin yang terbaik adalah seorang pria yang bernama Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian.” (HR Muslim).

Ketujuh, menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama. Lihatlah Uwais, ia sampai mengatakan pada Umar, “Aku menjadi orang-orang lemah, itu lebih aku sukai.”

Maksud perkataan ini adalah Uwais lebih senang menjadi orang-orang lemah, menjadi fakir miskin, keadaan yang tidak tenar itu lebih ia sukai. Jadi, Uwais lebih suka hidup biasa-biasa saja (tidak tenar) dan ia berusaha untuk menyembunyikan keadaan dirinya. Demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. [Al]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.