Pengaruh Psikologis Ibu Dalam Upaya Pencegahan Stunting

Oleh : Aruny Amalia Syahida

(Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

 

Beberapa tahun terakhir Pemerintah Indonesia sangat masif mengkampanyekan gerakan “Cegah Stunting pada Anak”. Tentu saja karena dampak dan ancaman stunting cukup besar bagi kualitas dan masa depan bangsa dan negara. Pemerintah memandang serius permasalahan ini, hingga 17 kementerian di Indonesia terlibat dalam penanganan stunting ini.

Berdasarkan data dari UNICEF, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki prevalensi stunting yang cukup tinggi, yakni 31,8 persen atau kurang lebih 9 juta jumlah anak stunting di Indonesia, sehingga meraih predikat very high (sangat tinggi). Dan Indonesia merupakan negara nomor empat dengan angka stunting tertinggi di dunia. fakta ini sungguh sangat memprihatinkan bagi kita semua.

Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (Balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) manusia, yang dimulai dari janin 270 hari didalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya.

Anak dengan kondisi stunting mempunyai dampak jangka pendek yaitu hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, perkembangan otak yang tidak maksimal yang dapat mempengaruhi kemampuan mental dan kecerdasan, serta prestasi belajar yang buruk. Adapun gejala jangka panjang meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis. (Endang L. Achadi, dkk. 2020)

Stunting pada balita disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat terjadi sejak di dalam kandungan dan setelah dilahirkan. Penyebab dalam kandungan terutama dikaitkan dengan faktor kondisi Kesehatan dan status gizi ibu, sedangkan setelah lahir lebih banyak disebabkan oleh faktor langsung yaitu asupan nutrisi, penyakit infeksi, dan pola pengasuhan bayi dan anak, serta banyak faktor yang lain.

Upaya  pencegahan stunting pada anak  telah dilakukan oleh pemerintah dari berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, sanitasi,  lingkungan hidup, gizi pangan, sosial, dan sektor sektor yang lain, yang tentunya semua berupaya keras membuat program dan intervensi pada masyarakat agar target penurunan angka stunting di Indonesia lekas tercapai.

Namun selama ini terkadang kita lupa, kita terlalu fokus mencegah stunting hanya dari sisi fisik atau fisiologi saja, namun jarang dari sisi  aspek psikologis. Henry Gleitman (dalam Syah, 1995 : 8) menyatakan bahwa Psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan.

Berkaitan dengan kesehatan psikis seorang istri atau calon ibu, maka sangatlah  penting peran atau dukungan suami, dan keluarga besar serta lingkungannya.

Jika melihat fakta disekitar kita, begitu banyak janin didalam perut yang tidak mendapatkan nutrisi cukup dari ibunya, bahkan banyak bayi yang tidak  mendapatkan ASI karena faktor psikologis  Ibu, mulai ASI tidak bisa keluar, ASI tidak mencukupi atau bahkan dari Ibunya sendiri yang tidak mau memberi ASI, mungkin karena Ibu stress, tertekan oleh banyak permasalahan atau sibuk karena pekerjaan. Maka menjaga kestabilan psikis dan emosi ibu sangatlah diperlukan. Memenuhi kebutuhan Ibu adalah langkah awal pemenuhan Kebutuhan Anak didalam kandungan.

Menurut Abraham Maslow, seorang tokoh psikologi asal Amerika Serikat, kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hierarki yang kita kenal dengan  “Teori Hierarki Kebutuhan”. Disebut hierarki karena memang manusia memenuhi kebutuhannya secara berjenjang. Setelah jenjang pertama terpenuhi, maka manusia akan mencoba memenuhi kebutuhan yang ada di jenjang berikutnya.

Lima hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow adalah, Pertama, Kebutuhan fisiologis,  yang merupakan kebutuhan paling mendasar atau kebutuhan primer dari hierarki Maslow, seperti makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Manusia akan memenuhi kebutuhan fisiologis terlebih dahulu sebelum ia beranjak ke kebutuhan berikutnya. Dalam hal ini suami bisa menyediakan makanan minuman bergizi yang halal dan thoyyib bagi istri, diharapkan  istri yang sedang hamil bisa mencukupi  kebutuhan nutrisi sang ibu dan janinnya.

Kedua adalah kebutuhan rasa aman, Kebutuhan rasa aman ini meliputi kebutuhan keamanan dan perlindungan dari bahaya fisik dan emosi. Kebutuhan ini didapatkan setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi. Suami yang siaga, tidak pemarah dan sabar, tidak ada KDRT atau kekerasan dari keluarga maupun dari pekerjaan,  tentunya memberi efek aman dan nyaman bagi istri.

Ketiga yaitu kebutuhan sosial, Kebutuhan sosial ini meliputi kebutuhan kasih sayang, rasa memiliki, bersosialisasi, penerimaan, dan persahabatan. Dalam hal ini, kasih sayang  suami, keluarga, sahabat dan sosialisasi yang baik dengan lingkungan sangat dibutuhkan oleh seorang istri.

Keempat yakni Kebutuhan penghargaan bahwa kebutuhan penghargaan meliputi faktor-faktor internal seperti harga diri, otonomi, dan prestasi serta faktor-faktor eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian.

Kelima atau tertinggi yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri sendiri, kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan diri, serta kebutuhan untuk menjadi orang yang lebih baik. Kebutuhan ini umumnya jarang dipenuhi oleh seseorang. Sebagian besar orang-orang hanya fokus pada kebutuhan fisik, rasa aman, sosial, dan harga diri.

Melihat teori Hierarki Maslow tentang kebutuhan manusia, dimana seorang Istri atau ibu hamil juga manusia, maka upaya pencegahan stunting  diawali dengan memenuhi kebutuhan sang istri atau dalam hal ini adalah ibu hamil, mulai dari pemenuhan fisiologisnya, pemenuhan kebetuhan rasa aman terlindungi, pemenuhan kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, pemenuhan kebutuhan aktualisasi, walaupun tidak semua ibu hamil ingin tampil mengaktualisasikan diri, tapi jika kebutuhan kebutuhan Ibu Hamil terpenuhi maka akan menjadikan kondisi psikologisnya lebih sehat dan positif.

Kondisi psikologi ibu yang positif, berdampak pada perilaku dan gaya hidup yang positif, kehamilan sehat, persalinan lancar, dan proses memberi ASI  pada anak pun akan menyenangkan dan membahagiakan. Ketika hormon Oksitosin atau hormon bahagia keluar,  dapat memicu hormon prolactin /hormon air susu pada ibu menyusui, sehingga ASI bisa keluar dengan lancar, dan bayi pun bisa mendapatkan ASI yang memiliki nutrisi terlengkap dan terbaik dari sang Maha Pencipta.

Sesuai dengan pendapat Roesli bahwa Cara kerja hormon oksitosin dipengaruhi oleh kondisi psikologis, karena itu persiapan ibu pasca bersalin merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi  keberhasilan menyusui, stress, rasa khawatir yang berlebihan, ketidak bahagiaan sangat berperan dalam kesuksesan menyusui (Roesli, 2012).

Jika dikaji dari psikologi Islam, perbuatan baik sang sauami atau calon ayah mutlak diperlukan dan sesuai hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “ Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga atau istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri atau keluargaku. (HR.Tirmidzi).

Para Ibu pun juga sangat dianjurkan untuk banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT apalagi  sedang dalam kondisi hamil, dengan banyak berdzikir, beryukur dan bersabar akan  membuat jiwa dan hati Ibu menjadi tenang dan bahagia, dan diharapkan akan melahirkan generasi sholeh yang sehat jiwa raga dan terbebas dari stunting.

 

 

Daftar Pustaka

Endang L. Achadi, dkk. 2020. Pencegahan Stunting Pentingnya Peran 1000 hari Pertama Kehidupan. Depok: Rajawali Pers.

Malcolm Hardy and Steve Heyes, 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta. Erlangga

Hurlock, E.B. (2009). Psikologi Perkembangan : Suatu Perkembangan Sepanjang Rentan Kehidupan. Jakarta : Erlangga

Dr. Hj. Utami Rusli, SpA, MBA., IBCLC (2012) Panduan konseling Menyusui. Jakarta :Pustaka Bunda

https://www.kompasiana.com/afm/55003d3f813311681ffa732e/psikologi-umum-1

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.